Ketua PWI Binjai : Wartawan Harus Bersatu Lawan Kriminalisasi Pers

105
Ketua PWI Binjai Arma Delisa Budi

garudaonline-Binjai | Maraknya kriminalisasi terhadap profesi jurnalistik beberapa waktu belakangan ini di sejumlah daerah, membuat profesi pers yang dilindungi Undang-Undang semakin terganggu.

Seperti terjadi di Kota Pematang Siantar yang menewaskan wartawan media online serta percobaan pembakaran rumah wartawan di Kota Binjai.

Bahkan, Jumat (25/6/2021) sekitar jam 17.40 WIB, salah seorang wartawan cetak atas nama Syahazara sofyan, yang juga Wakil Sekretaris 3 PWI Kota Binjai, kembali mendapat penyerangan.

Dia diserang 4 orang diduga preman dengan menggunakan senjata tajam dan batu di kawasan Jalan Sultan Hasanuddin Binjai, meski usaha mereka gagal dan pelaku berhasil diamankan petugas Polres Binjai.

Berbagai peristiwa dan tindakan kriminal jurnalis tersebut, tentu saja mencoreng keterbukaan informasi publik yang dilindungi Undang Undang.

Ketua PWI kota Binjai, Arma delisa Budi, saat dimintai konfirmasi, menyayangkan peristiwa tersebut yang diduga merupakan rangkaian dari peristiwa pembakaran rumah sebelumnya.

Dia mengimbau seluruh insan pers di Kota Binjai bersatu dan melawan segala bentuk kriminalisasi terhadap kebebasan pers.

Pihak kepolisian diminta segera mengungkap dan menangkap pelaku kriminalisasi pers tersebut, sebab hukum dan Undang Undang tidak boleh kalah dengan aksi preman manapun.

Dia sangat menyayangkan adanya kembali peristiwa percobaan penyerangan kepada jurnalis kemarin sore, yang diduga merupakan buntut dari percobaan pembakaran rumah sebelumnya.

“Ssaya mengajak seluruh insan pers bersatu dengan cara membuat pemberitaan setiap hari, agar tidak ada lagi oknum preman manapun bisa semena-mena di Kota Binjai, karena negara kita merupakan negara hukum,” kata Arma.

Hal senada disampaikan Wardika Aryandi, Sekretaris PWI Kota Binjai sekaligus Koordinator Wartawan Binjai Kompak (WBK), yang meminta Polres Binjai segera mengusut pelaku kekerasan terhadap wartawan, termasuk dalang dari aksi tersebut.

Sebab profesi wartawan sudah diatur dan dilindungi Undang Undang dengan tetap mengedepankan kode etik jurnalistik.

Apalagi saat ini profesi wartawan juga sudah dilengkapi dengan Uji kompetensi Wartawan, yang membuat wartawan tidak bisa membuat pemberitaan tidak memiliki narasumber jelas dan data pasti.

Bahkan, jika ada kesalahan dalam pemberitaan maka berita tersebut memiliki hak jawab yang bisa disampaikan ke redaksi hingga dewan pers.

“Kita sangat kecewa dengan banyaknya aksi kriminalisasi terhadap pers, terlepas dari awal masalah, tapi yang pasti jika sudah dimuat dalam bentuk berita, berarti sudah melewati sejumlah tahapan di redaksi,” ujarnya.

Karenanya, tidak pantas adanya tindakan brutal hingga penyerangan terhadap wartawan. “Hal ini harus menjadi prioritas bagi kepolisian untuk mengungkap pelaku dan dalangnya,” tegas Wardika. (anora)

Berita sebelumyaRibuan Warga Antusias Ikuti Vaksinasi Massal di Deliserdang
Berita berikutnyaSambut HUT Bhayangkara, Polda Jawa Timur Laksanakan Vaksinasi Serentak