Dr H Mardianto MPd, Sosok Dekan yang Sederhana dan Produktif Menulis Buku

729
Dr H Mardianto MPd di perpustakaan pribadinya

garudaonline-Medan | Namanya simpel, Mardianto. Lengkapnya Dr H Mardianto MPd, yang sejak awal Desember 2020 lalu diberi amanah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Utara.

Menurut Mardianto, saat ini FITK UINSU mengelola 11 program studi jenjang sarjana, 3 program studi magister dan 1 program studi doktor, serta memiliki 157 dosen.

Mardianto menyebutkan, terdapat tiga program utama dikembangkan membawa FITK UINSU menuju unggul, yakni digitalisasi, humanisme, serta pemberdayaan alumni.

Pada 2023, FITK UIN Sumatera Utara Medan genap berusia 50 tahun. “Karena itu, konsep Wahdatul Ulum yang digagas Rektor Prof Syahrin Harahap harus membumi di kalangan warga fakultas, alumni dan insan pendidikan,” ujarnya.

Senantiasa mendapatkan dukungan penuh istri tercinta Dr Hj Amini SAg MPd (dosen UMSU), Mardianto menyatakan masih terus belajar, belajar dan belajar.

Karena itu, hampir setiap pekan, pria kelahiran Asahan 12 Desember 1967 ini kerap diminta sebagai narasumber di sejumlah webinar, baik nasional maupun internasional.

Keseriusannya dalam belajar juga diteladani lima putra-putrinya. Tiga di antaranya tercatat sebagai mahasiswa program doktor, magister, program sarjana serta dua lainnya masih duduk di SMP.

Selain terus belajar dan menyempatkan diri membaca buku, pria yang memiliki jiwa sosial tinggi dan selalu tampil sederhana ini, juga dikenal produktif menulis buku dan jurnal ilmiah.

“Membaca dan menulis harus menjadi bahagian dari budaya keseharian kita,” katanya seraya menambahkan dirinya memiliki koleksi lima buku yang ditulis untuk anak-anaknya.

Perkembangan kelima anak-anaknya dituangkan di dalam buku tersebut. “Lima buku ini merupakan koleksi saya paling berharga di dunia,” ujarnya.

Produktivitas Mardianto menulis sudah menghasilkan 10 buku dan akan menyusul buku-buku lainnya. Buku pertamanya mengupas soal ‘Pesantren Kilat’, dan menjadi rujukan banyak orang khususnya saat bulan Ramadan atau liburan sekolah.

Bahkan, 9 Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) telah dipegangnya. Selain mensyukuri karunia Allah, Mardianto bertekad menjadikan dirinya sebagai bahagian dari pengembangan UIN Sumatera Utara.

Lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara 1990 ini, sudah mengabdi di almamaternya sejak 1994. Dia merintis karier sebagai Asisten Dosen, Kepala Laboratorium, Sekretaris Jurusan, hingga Wakil Dekan.

Mardianto juga pernah menjadi Ketua Unit Penjamin Mutu Fakultas, dan puncaknya diberi tugas menjadi orang nomor satu di fakultas, yang juga menjadi wadah awal dirinya menempa ilmu di jenjang pendidikan tinggi pada 1986 silam.

Lulusan S2 Progam Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Padang pada 2000 ini menyebut, dirinya ingin mengembangkan pembelajaran Islam yang lebih teknologis, tapi tetap humanis.

Usai menyelesaikan studi S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta pada 2010, konsentrasinya terhadap pendidikan, pembelajaran dan pelatihan terus dilakoninya.

Dia juga berkesempatan belajar tata pengelolaan manajemen pendidikan tinggi di Quesland University Australia pada 2013, lewat atas pembiayaan Project Implementation Unit dari IDB dalam rangka pengembangan SDM di lingkungan Kementerian Agama RI.

Hal ini juga menjadi salah bekal penting Mardianto, saat dipercaya mengelola FITK UIN Sumut dengan mahasiswa berjumlah 7.213 orang, dengan alumni lebih dari 30 ribu tersebar di seluruh nusantara.

LEGENDA HMI TARBIYAH

Saat masih berstatus sebagai mahasiswa, Mardianto dikenal sebagai sosok yang kreatif, baik di kampus maupun saat aktif di organisasi ekstra kampus, khususnya HMI.

Tak heran seluruh jenjang perkaderan di HMI sudah dilaluinya, mulai dari Maperca, Basic Training, Intermediate Training, Advance Training, dan Senior Course. Alhasil dia dipernah dipercaya menjadi Ketua Lembaga Perkaderan HMI.

Lama berkiprah di HMI, membuatnya didapuk menjadi Instruktur Nilai Identitas Kader (NIK) HMI. Karena kecintaannya terhadap HMI, disertasinya pun berjudul “Pengembangan Desain Perkaderan di Lingkungan HMI Cabang Medan”.

Di awal kariernya sebagai dosen, Mardianto mengaku banyak menerima bimbingan dari para senior, khususnya mantan Dekan FTIK Irwan Nasution (alm), sehingga pernah menjadi bagian kegiatan USAID DBE2.

Hal ini pula yang menghantarkannya ke negeri Paman Sam (AS), tepatnya di Michigan State University mengikuti training persiapan pembelajaran di perguruan tinggi.

Selain itu, Mardianto juga memperkaya khazanah keilmuannya lewat studi Islamologi di Leiden University Belanda pada 2016.

Pada akhir perbincangan, Mardianto memperlihatkan cover buku kecil yang dipersembahkan untuk almamaternya bertuliskan : “Apa saja yang telah kita ajarkan, doakan semoga menjadi amal berkelanjutan”.

“Apa saja yang sedang kita ajarkan, sebaiknya beri contoh agar mudah dipraktikkan. Hal apa saja yang akan kita ajarkan, rencanakan agar bermanfaat untuk hari depan”.

Bagi para aktivis HMI di Sumatera Utara khususnya di Fakultas Tarbiyah IAIN/ UIN Sumut, figur Mardianto sudah dianggap sebagai sosok legenda, dan role model para aktivis muda.

Pasalnya, Mardianto merupakan satu di antara sedikit orang yang mampu mengombinasikan kesuksesan sebagai aktivis organisasi dengan keberhasilan sebagai seorang akademisi. (UJUNG)

Berita sebelumyaPencalonannya Direspon Positif GM Immanuel Panggabean, Farianda Siap Pimpin PWI Sumut
Berita berikutnyaBelanda Hancur, Portugal Tergusur