Kepsek dan Guru Sekolah Penggerak SMPN 1 Bireuen Ikut Pelatihan ITH

216
Pelatihan ITH diikuti para guru di Sekolah Penggerak SMP Negeri 1 Bireuen. (garudaonline/ Suherman Amin)

garudaonline-Bireuen | Kepala sekolah dan 13 guru SMPN 1 Bireuen mengikuti pelatihan In House Training (IHT), rangkaian implementasi pembelajaran program sekolah penggerak walaupun masa liburan sekolah.

Kepala SMPN 1 Bireuen, Ibrahim Harun SPd MSM, Jumat (2/7/2021) di SMPN 1 Bireuen kepada garudaonline menyebut, pelatihan ITH berlangsung delapan hari, 28 Juni–6 Juli 2021, karena sekolah dipimpinnya telah ditetapkan sebagai sekolah penggerak.

Dijelaskan, semua yang mengikuti pelatihan ITH dilatih Penanggungjawab Sekolah Penggerak, Pengawas dan Kepala Sekolah yang sudah lulus seleksi tingkat nasional di progam sekolah penggerak, Tim komite pembelajaran SMPN 1 Bireuen serta pelatih ahli yang telah dilatih di tingkat nasional.

Disebutkan, selain merefleksikan nilai filosofi Kihajar Dewantara, mereka juga mengidentifikasikan komponen kerangka kurikulum dari peranan pemangku kepentingan tingkat pusat sampai satuan pendidikan di pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Mengidentifikasi rasional tujuan dan elemen capaian pembelajaran pada berbagai mata pelajaran yang diinput mengaitkan peranan capaian peserta didik.

Pelatihan ITH semua peserta sangat tekun dalam pembahasan orientasi pelatihan terkait kerangka kurikulum, perangkat, asesmen dan juga kurikulum operasional satuan pendidikan dan literasi digital.

Pelatinan tetap memberlakukan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 dengan prosedur pencegahan Covid yaitu 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Pelatihan IHT ini, kata Ibrahim Harun, sangat penting bagi guru dan tenaga kependidikan di sekolah penggerak.

“Selain disusunnya petunjuk teknis penguatan SDM, pelatihan ini merupakan program nasional yang sangat perlu diterapkan bagi siswa di sekolah,” jelasnya.

Di samping itu, pembelajaran program penggerak juga dapat berkolaborasi bersama komunitas praktisi sebab nantinya diperlukan implementasi secara kolaboratif dengan seluruh unsur pelaksana Program Sekolah Penggerak, sehingga satu arah yang lebih baik.

Ibrahim Harun berharap, agar para guru yang mengikuti pelatihan ITH harus benar-benar serius, sehingga setelah memperoleh ilmu dengan wawasan yang luas tentang kurikulum sekolah penggerak dapat menjalankan fungsinya dalam jabaran capaian pembelajaran (CP).

Selanjutnya, menjadi bentuk alur tujuan pembelajaran (ATP) serta dapat membuat modul ajar sebagai pengganti Rencana Penggunaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). (Hera)

Berita sebelumyaBupati Muzakkar A Gani Lantik Puluhan Pejabat Pemkab Bireuen
Berita berikutnyaData Kependudukan Belum Valid, Penyebab Warga Wampu Belum Terima Bansos