Jalan Ditembok, Santri Tahfiz Quran di Binjai Terpaksa Gunakan Tangga

223
Para santri Rumah Tahfiz Quran terpaksa menggunakan tangga memanjat tembok saat hendak ke masjid

garudaonline-Binjai | Jalan Nibung 1 dan Jalan Keluarga di Kelurahan Jati Makmur, Kecamatan Binjai Utara dipasang tembok setinggi 1,5 meter oleh salah seorang ahli waris.

Akibatnya, sejumlah santri Rumah Tahfiz Quran dan warga di kawasan itu, terpaksa menaiki tangga kayu yang dibuat warga, saat akan beribadah di masjid berada di Jalan Nibung 1.

Pasalnya, akses menuju masjid hanya bisa dilintasi melalui jalan tersebut. Sementara, untuk akses jalan lainnya harus menempuh rute yang lumayan jauh.

Penembokan pagar beton setinggi 1,5 meter ini sebelumnya disediakan akses pintu oleh pemilik lahan dan sudah dilakukan pengaspalan oleh Pemko Binjai selebar 2 meter.

Namun, di ujung Jalan Keluarga yang tembus ke Jalan Nibung 1, sekarang sudah berdiri tembok beton yang menjadi penghalang aktivitas warga.

Menurut salah seorang warga, dulunya jalan tersebut terbuka dan bisa dilintasi kendaraan. Namun sejak ditembok oleh salah seorang ahli waris, mereka terpaksa memanjat pagar dengan menggunakan tangga.

Apalagi sejumlah santri Rumah Tahfiz Quran yang berada di sekitar itu juga terpaksa memanjat pagar tembok dengan tangga saat akan beribadah di masjid terdekat.

“Setahu saya dari dulu itu merupakan jalan umum karena terbuka dan bisa kami lintasi, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi karena dipagar beton ahli waris pemilik lahan. Kami juga tak tahu apakah jalan itu merupakan fasilitas umum atau jalan pribadi,” beber Fitri.

Sementara itu, Lurah Kelurahan Jati Makmur, Kecamatan Binjai Utara, Hotlan Panjaitan saat ditemui dikantornya, Senin (13/9/2021) menjelaskan, pihaknya sudah pernah memediasi warga dengan pemilik lahan.

Sempat disimpulkan akan diberikan pintu di tembok tersebut, namun keesokan harinya usai mediasi, ahli waris pemilik lahan kembali datang dan membatalkan kesepakatan tersebut.

“Mereka berdalih, salah seorang ahli waris yang berada di Jakarta tidak bersedia membuka pagar tembok,” ungkap Panjaitan.

Pihak kelurahan juga masih mengumpulkan alas hak tanah tersebut, guna mengetahui apakah jalanan yang sudah dilakukan pengaspalan merupakan fasilitas umum atau milik pribadi.

Panjaitan menambahkan, pihaknya masih mengumpulkan alas hak tanah dari para ahli waris yang berjumlah 12 orang, untuk mengetahui status tanah tersebut, karena mediasi dilakukan tidak membuahkan hasil.

“Jika nanti alas hak sudah dikumpulkan dan status tanah sudah diketahui, akan langsung kita proses sesuai dengan statusnya,” katanya didampingi kepala lingkungan.(anora)

Berita sebelumyaKakek Tewas Mengenaskan Dilindas Truk
Berita berikutnyaKajari Medan Dukung Penuh Terbentuknya Forwakum Sumut