Kenduri ‘Treun U Blang’, Tradisi Petani Aceh Jelang Turun ke Sawah

241
Tampak petugas sedang mengaduk kuah mempersiapkan masakan yang akan disantap bersama pada acara kenduri 'Treun U Blang'. (garudaonline/ Suherman Amin)

garudaonline-Bireuen | Menjelang kegiatan Treun U Blang (turun ke sawah), yang direncanakan Minggu kedua Januari 2022.

Masyarakat Cotbatee, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, melaksanakan kenduri bersama di kawasan areal persawahan belakang rumah Pak Samosir saluran irigasi arah ke Cotbatee, Kamis (23/12/2021).

Syamaun didampingi adiknya Jafar Tuha Peut rekan masaknya di sela persiapan kenduri menyebut, Treun U Blang sudah rutin dilaksanakan.

Utamanya, menjelang turun ke sawah. “Hal itu memang sudah menjadi tradisi endatu (nenek moyangnya orang Aceh),” kata mereka.

Disebutkan, pada kenduri dipotong biri-biri dihadiri semua elemen masyarakat dan atas nama petani berdoa bersama meminta kepada Allah, agar padi mereka terhindar dari serangan hama.

Masyarakat Gampong Geudong-Geudong, Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen, melaksanakan Khanduri Blang (kenduri turun ke sawah-red) menjelang turun ke sawah.

“Dan, hal itu sudah merupakan tradisi yang mengalir dari nenek moyang bagi kami yang juga petani,” ungkap adiknya Bang Jafar Tuha Peut.

Sementara, Keuchik Geudong Geudong, Fakhrial mengatakan, mereka melakukan kenduri selain merupakan tradisi dalam merajut erat kebersamaan.

Memang, kata Keuchik Fakhrial, tradisi itu dilakukan turun-temurun oleh petani di Geudong-Geudong Kecamatan Kota Juang, bahkan Kabupaten Bireuen.

“Ini munajat mengharapkan berkah dari Allah SWT, agar padi di sawah mereka bebas dari hama, saat musim tanam hingga panen tiba,” kata keuchik.

Disebutkan, dulu kenduri berlangsung setahun sekali. Namun seiring perkembangan zaman, musim tanam telah berlangsung dua kali setahun, maka Khanduri Blang juga dilakukan dua kali setahun.

Selain itu, kata Keuchik, dengan mulusnya jalan kawasan pertanian, maka sawah para petani pun harganya meningkat, dari Rp150 ribu/ meter melonjak hingga Rp300–Rp500 ribu per meter.(HERA)

Berita sebelumyaBupati Langkat : Insan Bhayangkara Harus Ikhlas Jalankan Tugas
Berita berikutnyaPerkosa Ibu Muda di Kebun Sawit, Oknum Satpam PT Milano Ditangkap