Kajian Forhati Sumut, Prof Pujiati MSoc Sc PhD : Ramadan Bulan Tarbiyah

553

garudaonline-Medan | Ramadan merupakan bulan tarbiyah (pendidikan) atau bulan mendidik diri dalam berbagai hal yang tidak berguna sesuai dengan ketentuan syariat.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU), yang juga Dewan Pertimbangan dan Penasihat Forhati Sumut Prof Pujiati MSoc.Sc PhD, mengemukakan hal itu pada Kajian Ramadan Forhati Sumut lewat zoom virtual meeting, Jumat (7/5/2021).

Menurut Pujiati, pada bulan Ramadan orang-orang beriman dilatih dari mulai melaksanakan ibadah puasa, bangun sahur, tarawih, tahajjud, tadarus, baca quran, salat sunat lainnya.

Zikir, iktikaf, bersedekah, zakat fitrah, zakat, akhlakul karimah ; tidak berbohong, tidak bergunjing, tidak berlebihan, kesederhanaan, kesabaran. Dimulai dari awalnya keikhlasan dan puncaknya keikhlasan.

“Bulan Ramadan merupakan waktu untuk pemulihan, sehingga lewat berpuasa mengondisikan tubuh kita agar selalu dalam keadaan fit,” kata Pujiati.

11 bulan bekerja penuh, wajar jika organ tubuh membutuhkan waktu untuk pemulihan, sehingga dengan shaum kondisi kesegaran dapat dicapai. Sebagaimana disebutkan Rasulullah dalam hadits yang artinya “bershaumlah kamu agar sehat”.

Lebih jauh Pujiati memaparkan mengenai syarat wajib puasa Ramadan, rukun puasa serta nilai dan manfaat bulan puasa. Yaitu 1. Keikhlasan : Ramadan mendidik hati umat muslim supaya ikhlas dalam melaksanakan segala amalan dan perbuatan.

2. Ketakwaan : di dalam Islam, puasa di bulan Ramadan mempunyai tujuan dalam rangka takwa terhadap Allah. Seseorang yang menjalankan puasa harus mengekang diri dari tuntutan biologis seperti makan, minum dan melakukan hubungan intim, demi menjalankan perintah Allah.

3. Pengendalian Diri : dengan puasa, kita dilatih untuk mengendalikan syahwat anggota-anggota badan tersebut. Menata atau memenej hati seorang yang berpuasa agar lebih suci dan bersih.

Sehingga terhindar dari sifat-sifat jelek atau tercela, seperti sifat dengki, iri hati, riya’ atau suka dipuji dan dilihat orang lain, dan lain sebagainya yang tergolong pada hal-hal mengotori hati manusia.

4. Kedermawanan : orang beriman dan melaksanakan ibadah puasa Ramadan dengan penuh keimanan, pasti akan tersentuh hatinya untuk menolong kaum fakir miskin yang selalu hidup dalam keadaan serba kepapaan.

5. Kesabaran : inti ibadah puasa adalah melatih kesabaran. Barang kali secara lahiriah kita semua sudah mengerti apa saja yang dapat membatalkan ibadah puasa.

“Tapi, yang lebih berat adalah mencegah hal-hal bersifat batiniah yang dapat merusak, bahkan membatalkan ibadah puasa,” sebut Pujiati.

Diskusi yang dipandu Rahmanita Ginting MSc PhD, yang juga pengurus Forhati Sumut periode 2021-2026 itu diawali pembacaan ayat suci Alquran oleh Eni Rismawati SPd MSi.

Sebelumnya, Presidium Forhati Sumut drg Sulfia Dewi Rambe dalam sambutannya mengatakan, sangat mendukung kegiatan kajian dengan harapan dapat memberi manfaat bagi anggota baik dari Majelis Daerah maupun Majelis Wilayah Forhati Sumut.

Lebih jauh Sulfia mengapresiasi para peserta kajian yang telah meluangkan waktu dan panitia, yang dapat menyelenggarakan sampai saat ini. Terlebih narasumber yang sudah menyempatkan waktu untuk menyampaikan kajian Ramadan kali ini.

Diskusi diikuti dengan antusias oleh peserta, di antaranya Serasi Malam Sitepu, Elva Citra Sari, Dinda Permatasari Harahap, Nurhayati Harahap, Rini Azara, Marhayani Polem, Rita Tarigan, Aida Yanti, Erni Suryani, Sri Adelila Sari, dan lainnya.(UJ)

Berita sebelumyaKegiatan KNPI Stabat di Bulan Ramadan Diakhiri dengan Buka Bersama
Berita berikutnyaEmas Berjangka Tetap Jadi Pilihan Primadona