Agunkan Emas Palsu Senilai Rp 2,3 Miliar, Suami Istri Jadi Tersangka

137
Tersangka SRS (rompi merah) digiring ke mobil tahanan Kejatisu

garudaonline – Medan | Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) menetapkan dua tersangka yang merupakan suami istri dalam kasus dugaan korupsi penyalahgunaan pencairan jaminan agunan emas palsu pada Kredit Cepat Aman (KCA) PT Pegadaian (Persero) Unit Pelayanan Cabang (UPC) Perdamaian Stabat Kantor Cabang Tanjung Pura periode tahun 2019-2020 yang berpotensi merugikan negara sebesar Rp 2.394.468.800.

Kepala Kejatisu (Kajatisu) IBN Wiswantanu melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Yos A Tarigan menjelaskan, bahwa berdasarkan hasil penyidikan tim penyidik sudah memperoleh alat bukti untuk menetapkan dua tersangka yakni SRS (35) selaku Aparatur Sipil Negara (ASN) dan istrinya, DAS (35) selaku Kepala UPC Perdamaian.

“Kedua tersangka sudah disampaikan surat panggilan. Namun, pada Rabu (13/10/2021), tersangka DAS lebih awal dilakukan tahanan kota. Dengan alasan dua anaknya masih balita dan salah satunya masih menyusui. Yang bersangkutan juga kooperatif dan wajib melaporkan keberadaannya,” jelas Yos.

Sedangkan teersangka SRS memenuhi panggilan pada Kamis (14/10/2021) dan langsung ditahan 20 hari ke depan terhitung sampai tanggal 3 Nopember 2021. “Tersangka SRS ditahan di Rutan Labuhan Deli Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang,” ucap Yos.

Diterangkan mantan Kasi Pidsus Kejari Deliserdang ini, pada kurun waktu Juli 2019 sampai Maret 2020, telah dilakukan pencairan uang pinjaman sebanyak total 306 transaksi yang seluruhnya merupakan gadai jaminan fiktif jenis barang palsu berupa perhiasan emas palsu. Sebanyak 306 lembar bukti surat gadai total pencairan penjaminan yang dilakukan DAS bersama suaminya, SRS adalah sebesar Rp 2.394.468.800.

“DAS selaku Kepala UPC Perdamaian menyalahgunakan jabatannya atas pencairan uang pinjaman tersebut dan diserahkan kepada suaminya. Uang pinjaman tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Sehingga perbuatan DAS bersama suaminya, SRS telah merugikan keuangan negara khususnya BUMN yakni PT Pegadaian (Persero) UPC Perdamaian Stabat,” terang Yos.

Kemudian, ahli independen dan tim audit dari pegadaian sendiri telah melakukan uji kadar emas diketahui bukan emas melainkan emas palsu. Kedua tersangka, dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) KUHPidana.

(RD)

Berita sebelumyaKemenkum HAM Sumut Harap Forwakum Sumut Sajikan Informasi Berimbang
Berita berikutnyaRugikan Negara Rp 32,5 Miliar, Mantan KCP Bank Syariah dan Direktur PT Tanjung Siram Dituntut 14 Tahun