Atlet Renang Legendaris Divonis 1 Bulan Penjara

350
Terdakwa, Habib Nasution mendengarkan putusan. (Ist) 
Terdakwa, Habib Nasution mendengarkan putusan. (Ist) 

garudaonline – Medan | Usia 81 tahun membuat Habib Nasution tak bisa menghabiskan masa tuanya dengan bahagia. Bagaimana tidak, atlet renang legendaris yang berkediaman di Jalan Setia Budi Kelurahan Asam Kumbang Kecamatan Medan Selayang ini divonis selama 1 bulan penjara karena terbukti memalsukan surat terkait jual beli rumah toko (ruko).

Dalam sidang dengan agenda putusan di Ruang Cakra III Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (17/5/2021), terdakwa yang pernah menyabet dua medali perunggu pada ajang Asian Games III Tahun 1958 di Tokyo ini tampak berjalan sambil terbungkuk-bungkuk. Dia membawa tongkat untuk sekedar menopang tubuhnya.

Majelis hakim berpendapat, pria yang pernah menempati peringkat ke 7 dalam Olimpiade Melbourne 1965 ini terbukti melakukan pemalsuan sebagaimana Pasal 385 ayat (1) KUHPidana. “Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa Habib Nasution selama 1 bulan,” ujar Hakim Ketua, Ali Tarigan.

Putusan hakim ini beda tipis dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho selama 2 bulan penjara. Usai mendengarkan putusan hakim, terdakwa yang pernah mengharumkan nama Sumut di kancah dunia ini tidak begitu paham karena faktor usia.

“Belum paham kali pak,” ucap pria yang pernah mencatat rekor nasional selama 14 tahun itu. Meski mengaku tak paham, hakim memberi terdakwa waktu tujuh hari untuk menentukan langkah hukum terhadap putusan.

Dalam dakwaan JPU Chandra Naibaho, perkara ini berawal dari permasalahan kepemilikan satu unit ruko di Jalan Masjid Nomor 43 Medan Kelurahan Kesawan Kecamatan Medan Barat. Adapun alas hak ruko tersebut berupa surat Grant C.

Terdakwa Habib Nasution ini adalah anak kandung dari almarhumah Sapinah. Sementara DR TA King Ho (korban) merupakan anak dari mendiang TA Sing Heng. Orangtua terdakwa dan korban mengelola ruko yang sama.

“Sepeninggalan Sapniah, pengelolaan ruko dilanjutkan oleh terdakwa bekerjasama dengan DR TA King Ho. Dalam perjalanannya, ruko itu disewa Tiang Sing Ming sejak tahun 1992. Setelah Tiang Sing Ming meninggal, sewa ruko dilanjutkan oleh Ting Lie Hong (berkas terpisah),” ujar JPU.

Ting Lie Hong adalah anak dari Tiang Sing Ming. Belakangan, setelah berjalannya waktu, ruko tersebut dijual oleh terdakwa kepada Ting Lie Hong tanpa sepengetahuan DR TA King Ho. Ruko itu dijual pada 7 Juli 2014 seharga Rp 200 juta pada Ting Lie Hong.

“Setelah dicek, surat-surat ruko itu telah dipalsukan oleh terdakwa. Atas dasar itu, terdakwa bersama Ting Lie Hong dilaporkan ke pihak berwajib. Karena perbuatan terdakwa, DR TA King Ho mengalami kerugian sebesar Rp 1,6 miliar,” pungkas Chandra. (RD)

Berita sebelumyaKabar Gembira Buat Warganet Indonesia!!
Berita berikutnyaPascalebaran, Bupati dan Forkopimda Asahan Ikuti Arahan Presiden secara Virtual