Cemarkan Nama Baik Polisi, Dua Youtuber Medan Dihukum 8 Bulan

192
Kedua terdakwa menjalani sidang virtual. (Garuda) 
Kedua terdakwa menjalani sidang virtual. (Garuda) 

garudaonline – Medan | Majelis hakim yang diketuai oleh Ahmad Sumardi memvonis dua Youtuber Medan, Joniar M Nainggolan dan Benni Eduward Hasibuan masing-masing selama 8 bulan penjara.

Keduanya dinyatakan terbukti telah menyebarkan berita bohong lewat video di akun Youtube serta mencemarkan nama baik kepolisian.

“Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa Joniar M Nainggolan dan Benni Eduward Hasibuan masing-masing selama 8 bulan penjara dengan perintah tetap ditahan,” ujar hakim dalam sidang virtual di Ruang Cakra IV Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (12/4/2021).

Majelis hakim berpendapat, hal yang memberatkan, perbuatan kedua terdakwa meresahkan masyarakat, telah menyerang dan membuat rasa malu saksi korban yang merupakan kepolisian, tidak memiliki izin untuk mengupload ke medsos dan tidak mengakui perbuatannya.

“Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga,” pungkas hakim. Kedua terdakwa dinyatakan terbukti melanggatlr Pasal 45 A ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 Atas Perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Setelah mendengar amar putusan, kedua terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho menyatakan pikir-pikir. Vonis tersebut sama (conform) dengan tuntutan JPU dari Kejari Medan itu.

Dalam dakwaan JPU Chandra Naibaho, pada Selasa tanggal 11 Agustus 2020, Joniar M Nainggolan menghubungi Benni Eduward Hasibuan untuk berkeliling melihat aktifitas di seputaran Samsat Putri Hijau Medan.

Sesampainya di lokasi, Joniar mengecek kendaraan mobil yang terparkir di belakang Kantor Samsat Putri Hijau Medan dengan menggunakan pengecekan telkomsel (kode USSD) dengan mengetik *368*117#.

“Setelah mengecek, kedua terdakwa menemukan beberapa kendaraan yang menunggak pajak dan ada beberapa kendaraan tidak ditemukan datanya. Ada juga beberapa kendaraan yang diduga bodong,” ujar JPU.

Melihat itu, timbul inisiatif kedua terdakwa untuk membuat live youtube dengan menggunakan akun Joniar News Pekan dengan judul awal ‘Sidak di Samsat’. Kedua terdakwa melakukan live dengan berkeliling ke samping, depan dan belakang Kantor Samsat Putri Hijau Medan.

Saat live youtube tersebut, kedua terdakwa menyebut beberapa kendaraan dan plat polisi mobil. Pada durasi awal 00.01, Benni mengatakan ‘masih banyak oknum yang menggunakan kendaraan bodong’.

Kemudian pada durasi 02.00, Joniar mengatakan ‘mereka bertugas di Dit Lantas tapi tidak taat pajak’. Lalu, pada durasi 02.12, Benni mengatakan ‘kenapa di areal Samsat Putri Hijau banyak sekali ditemukan kendaraan bodong’.

Pada durasi 02.25, kedua terdakwa mengatakan ‘BK 1212 JG 3,7 juta nunggak pajak’. Tak hanya itu, pada durasi 07.24, Johanes Ginting (korban) yang sedang berdiri di samping Honda Jazz BK 1212 JG miliknya, kedua terdakwa memperlihatkan mobil itu diduga menunggak pajak.

“Selesai live youtube, kedua terdakwa mengupload atau menyebarkan video tersebut berjudul kalimat#VIRAL#PUNGLI#RAZIA SIDAK DI SAMSAT POLDASU Banyak Diduga Plat Bodong digunakan oknum Part 1 dengan video durasi 22.46 menit,” cetus Chandra.

Selanjutnya, sekira jam 16.00 WIB, Johanes dihubungi oleh M Shaleh yang memberitahukan bahwa akun youtube Joniar News Pekan telah mengupload video yang memperlihatkan korban sedang berada disamping mobilnya.

Melihat video itu, Johanes tidak menerima. Karena pajak mobil milik Johanes tidak tertunggak seperti apa yang disebarkan oleh kedua terdakwa. (RD)

Berita sebelumyaDiadili di PN Medan, Jukir Didakwa Nyimpan Sabu 1 Kg
Berita berikutnyaTiga Kapal Perang Reembarkasi Pasukan Usai Latihan Pendaratan