Delapan Terdakwa Perampas Kemerdekaan Hingga Menyebabkan Kematian Divonis Berbeda

168
Para terdakwa saat menjalani sidang. 
Para terdakwa saat menjalani sidang. 

garudaonline – Medan | Delapan terdakwa yang terbukti merampas kemerdekaan hingga menyebabkan Jefri Wijaya alias Asiong (28) meninggal dunia, divonis berbeda-beda.

Dalam sidang putusan yang digelar secara virtual di Ruang Cakra VII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (30/6/2021), Hakim Ketua, Jarihat Simarmata menjelaskan bahwa terdakwa Handi alias Aan dihukum selama 4 tahun penjara, Muhammad Dandi Syahputra alias Dandi dan Bagus Ariyanto divonis masing-masing 3 tahun 6 bulan penjara serta Hoki Setiawan alias Kecot dihukum 2 tahun 4 bulan penjara.

Selanjutnya, Andi Saputra dihukum selama 1 tahun 6 bulan penjara, Aqbar Agustiawan alias Ojong dan Selamat Nurdin Syahputra alias Tutak divonis masing-masing 1 tahun 1 bulan penjara serta Guruh Arif Amada dihukum 10 bulan penjara.

“Para terdakwa dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan dan turut serta melakukan dengan sengaja merampas kemerdekaan seseorang yang mengakibatkan kematian,” tandas hakim.

Adapun pertimbangan dalam putusan ini yakni sudah ada perdamaian antara para terdakwa dan keluarga korban. Para terdakwa terbukti melanggar Pasal 333 ayat (3) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Usai membacakan vonis, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Aisyah menyatakan pikir-pikir. “Pikir-pikir majelis,” ucapnya. Sebelumnya, Handi alias Ahan dituntut selama 7 tahun penjara, Muhammad Dandi Syahputra alias Dandi dan Bagus Ariyanto dituntut masing-masing 6 tahun penjara.

Selamet Nurdin Syahputra alias Tutak dituntut 2 tahun, Andi Sahputra alias Andi dan Hoki Setiawan alias Kecot dituntut masing-masing 4 tahun. Aqbar Agustiawan alias Ojong 2 tahun, serta Guruh Arif Amada 1 tahun.

Sedangkan 3 terdakwa lain yang merupakan anggota TNI yakni Perri Panjaitan alias Perri divonis 5 bulan penjara, Suhemi yang telah mengajukan banding dihukum 4 tahun 6 bulan penjara dengan pidana tambahan dipecat dari dinas militer dan Indrya Lesmana divonis 10 bulan penjara. Hanya Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango yang dituntut 3 tahun penjara, belum mendengarkan putusan.

Dalam dakwaan JPU Nelson Victor, pada 14 September 2020 lalu, Edy Suwanto menghubungi Handi melalui telepon dan mengatakan bahwa Dani berutang judi online sebesar Rp 766 juta. Penjamin utang tersebut adalah Jefri Wijaya alias Asiong yang berjanji akan membayar sebesar Rp 200 juta.

“Lalu, Edy memerintahkan Handi agar datang ke Warkop Nusantara di Jalan Panglima Denai Medan Amplas untuk membicarakan hal tersebut. Handi bersama Reza Santoso mencari Dani ke rumahnya di Jalan Kasuari Medan Sunggal, namun tidak ketemu,” ujar JPU.

Pada 16 September 2020, Edy kembali menghubungi Handi untuk bertemu di Warkop Nusantara. Di warkop tersebut, Edy mengatakan kepada Handi: ‘Kau cari si Asiong bagaimana pun caranya. Dan jika sudah dapat kau kabari si Suhemi untuk tindakan selanjutnya. Apabila berhasil diberikan hadiah atau bonus’.

Selanjutnya, Perri bertanya kepada Handi mencari korban dari mana. Handi menjawab jika korban sering dugem di The Cube Hotel Danau Toba karena melihat story Facebook milik Baron selaku DJ (Disk Jockey).

“Dengan menggunakan mobil, para terdakwa berangkat menemui DJ Baron. Namun, DJ Baron mengatakan bahwa korban tidak pernah lagi datang ke tempat tersebut,” cetus Nelson.

Karena tidak membuahkan hasil, Handi menyuruh Muhammad Dandi untuk mengechat korban dan berpura-pura menanyakan harga mobil Terios yang ada di Facebook. Para terdakwa pun mengatur rencana agar bisa bertemu dengan korban.

Disepakati mereka akan bertemu di parkiran SPBU Jalan Sei Batang Hari Medan. Di lokasi tersebut, para terdakwa memaksa korban masuk ke dalam mobil. Korban dibawa ke lahan garapan Pasar 9 Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang.

“Di situ, Suhemi memaksa korban dengan mengatakan: ‘Dimana si Dani, mana uang Rp 200 juta yang dijanjikan’. Namun, korban hanya diam. Lalu, Suhemi menjambak rambut dan menghantamkan kepala korban ke lantai,” pungkas JPU.

Tak berhenti di situ, Suhemi mengambil selang yang sudah dipersiapkan sebelumnya lalu memukuli wajah korban. Takut aksi mereka diketahui warga, Suhemi menghubungi anggotanya untuk mencarikan rumah kontrakan.

Rumah kontrakan tersebut pun didapat di Pasar III Timur Gang Alif Kecamatan Medan Marelan. Dengan kondisi korban dalam keadaan telanjang, mata dan badan dilakban lalu dibawa ke rumah kontrakan tersebut.

“Di rumah kontrakan, Suhemi juga memijak dada, menendang rusuk dan wajah korban dipukuli menggunakan selang. Hingga akhirnya, korban pun tewas. Mayat korban di buang ke jurang di kawasan Berastagi, Kabupaten Karo,” ucap Nelson. (RD)

Berita sebelumyaPanit 2 Lantas Polsek Medan Kota Peduli Anak Tidak Pakai Masker
Berita berikutnyaCari Dokumen Pencairan Kredit Rp 39,5 Miliar, Kejati Sumut Geledah Kantor BTN Cabang Medan