Didakwa Gelapkan Uang Teman, Fernando Sianturi Diadili

219
persidangan pembacaan dakwaan

garudaonline – Medan | Soaduon Fernando Sianturi terpaksa duduk di kursi pesakitan Ruang Cakra IV Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (13/10/2021). Dia didakwa telah mengelapkan uang teman sendiri dengan modus telah memenangkan proyek di Dinas Perkim Deliserdang.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nelson Victor, pada Agustus 2019 lalu, terdakwa Soaduon Fernando menemui Garden Parasian Lumbantobing di Jalan Turi Perum Turi Asih Nomor 19 Medan. Saat itu, terdakwa berkata bahwa dia telah memenangkan proyek irigasi di Kabupaten Deliserdang.

Namun karena kurang modal, terdakwa minta tolong agar dibantu. Terdakwa berjanji akan memberikan keuntungan kalau proyek tersebut sudah dibayar. Lalu, Garden mengatakan akan melihat dulu apakah benar proyek tersebut ada atau tidak.

“Sekira satu minggu kemudian, terdakwa bersama Garden berangkat menuju Kantor Dinas Perkim Deliserdang untuk mengetahui apakah terdakwa benar ada mendapat proyek. Ternyata hal itu benar,” ujar JPU.

Setelah mengetahui kebenaran informasi tersebut, Garden menyerahkan uang sebesar Rp 982.725.000 dan membuat surat pernyataan pada Agustus 2019, yang dibubuhi materai 6.000. Isi surat itu pada pokoknya menyatakan bahwa Garden Parasian Lumbantobing benar telah memberikan uang sebesar Rp 982.725.000, kepada terdakwa.

Terdakwa akan mengembalikan uang tersebut pada tanggal 30 Desember 2019. “Sekira Januari 2020, Garden melakukan pengecekan ke lokasi pekerjaan di daerah pemukiman Kecamatan Pemang Johar Kabupaten Deliserdang. Saat itu, Garden melihat dan mengetahui bahwa kegiatan proyek yang dikerjakan oleh terdakwa telah selesai,” pungkas Nelson.

Biaya pelaksanaan pekerjaan tersebut telah dibayarkan oleh Dinas Perkim Deliserdang sebesar Rp 2.106.278.250. Lalu, terdakwa menyerahkan satu lembar cek sebesar Rp 642 juta tertanggal 20 Maret 2020 kepada Garden. Pada tanggal 20 Maret 2020, Garden berangkat menuju PT Bank Sumut untuk mencairkan cek tersebut.

“Saat mengajukan pencairan, petugas teller Bank Sumut mengatakan bahwa dana yang ada tidak mencukupi untuk membayarkan sejumlah uang sebagaimana tertera pada cek tersebut,” terang JPU. Karena setelah menyerahkan satu lembar cek sebesar Rp 642 juta tertanggal 20 Maret 2020, terdakwa membuat surat pernyataan tanggal 18 Maret 2020 yang ditandatangani dan dibubuhi meterai 6000 berisi pada pokoknya menerangkan telah kehilangan cek asli cek.

“Setelah selesai membuat surat pernyatan tersebut, terdakwa menuju Kantor PT Bank Sumut membuat laporan kehilangan dan menyerahkan surat itu,” ucap Nelson. Atas dasar surat pernyataan yang diserahkan oleh terdakwa, PT Bank Sumut Cabang Medan menerbitkan surat keterangan yang pada pokoknya menerangkan adanya laporan kehilangan atas lembaran cek.

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan pengurusan surat keterangan tanda lapor kehilangan ke kantor polisi. Setelah terbitnya surat keterangan tersebut, terdakwa juga menggunakan surat pernyataan itu dan menuju Kantor Polrestabes Medan untuk membuat laporan kehilangan 8 lembar cek.

Selanjutnya, setelah mendapat surat-surat tersebut, pada tanggal 20 Maret 2020, terdakwa terlebih dahulu mengambil uang di rekening l milik CV Global Nusantara.

Sehingga pada saat Garden melakukan pencairan cek dana sebesar Rp 642 juta, tidak mencukupi karena telah terlebih dahulu diambil oleh terdakwa dengan menggunakan surat-surat tersebut. Akibat perbuatan terdakwa, Garden mengalami kerugian sebesar sebesar Rp 982.725.000.

(RD)

Berita sebelumyaJadi Kurir Sabu 20 Kg, Mahasiswa Ini Dihukum 15 Tahun
Berita berikutnyaSatu Terdakwa Pembunuh Bapak Kos di Medan Divonis 20 Tahun, Dua Lagi 18 Tahun