Dituntut 2 Tahun, Residivis Kasus ITE Dinilai Terbukti Cemarkan Nama Baik

132
Terdakwa, Ahmad Faisal Nasution saat menjalani sidang. (Ist) 
Terdakwa, Ahmad Faisal Nasution saat menjalani sidang. (Ist) 

garudaonline – Medan | Terdakwa Ahmad Faisal Nasution (43) dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmi Shafrina selama 2 tahun penjara dan denda sebesar Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan. Residivis ini dinilai terbukti melakukan pencemaran nama baik Ali Azrizal selaku kontraktor.

“Meminta majelis hakim supaya menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa Ahmad Faisal Nasution selama 2 tahun penjara dan denda Rp 10 juta. Apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan,” ujar JPU dalam sidang virtual di Ruang Cakra III Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (21/5/2021).

Menurut jaksa, adapun hal yang memberatkan, terdakwa sudah pernah dihukum dalam kasus yang sama, tidak mengakui dan tidak menyesali perbuatannya. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa tulang punggung keluarga.

“Perbuatan terdakwa terbukti melanggar Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),” pungkas Rahmi.

Usai mendengarkan tuntutan, majelis hakim yang diketuai oleh Abdul Aziz menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembacaan pembelaan (pledoi).

Sebelumnya, terdakwa yang merupakan warga Jalan Bajak III Nomor 8-A Lingkungan VI Kecamatan Medan Amplas itu pernah dijatuhi hukuman selama 1 tahun penjara dalam kasus pencemaran nama baik pejabat PDAM Tritanadi Medan.

Dalam dakwaan JPU Nelson Victor, pada tanggal 12 Agustus 2020 sekira jam 06.24 WIB, terdakwa Ahmad Faisal Nasution membuat postingan pada akun Facebook miliknya atas nama Bob Faisal Forsu dengan menggunakan hape Iphone 6S.

Postingan tersebut berupa caption yang berbunyi: “Teringat akan nasi bungkus di meja ruangan pidsus pemborong inisial AR jelas lebih mahal daripada nasi bungkus milik cebong dan kampret, serta bedanya pun sangat bertolak belakang. Klw nasi bungkus cebong kampret jual beli ayat dan dukungan, klw nasi bungkus ruangan pidsus pemborong tentu jual nama tjg Tamora dan asrama haji konon juga Rasuna Said. Aksara 90M jalan busi apa kabar pemborong makelar proyek oknum-oknum institusi”.

“Dengan tagar #UsutHartaKekayaanOdied #UsutHarta Kekayaan Aspidsus #Tangkap PemborongMakelarProyek,” ujar JPU. Dalam postingan tersebut, terdakwa menampilkan satu buah foto seseorang berbadan gemuk dan tanpa kepala yang sedang memegang nasi bungkus. Foto tersebut adalah foto Ali Azrizal (saksi korban) yang diambil terdakwa dari akun Facebook atas nama Ashari Sinik.

“Terdakwa sengaja melakukan pengeditan dengan cara memotong (meng-crop) foto tersebut sehingga tidak hanya nampak bagian tubuh dan tanpa kepala agar orang yang membaca atau melihat postingan tersebut tidak mengenali siapa sebenarnya orang yang ada di dalam foto tersebut,” cetus Nelson.

Menurut JPU, postingan tersebut memberikan arti bahwa Ali Azrizal adalah sebagai makelar proyek, pengusaha hitam dan merupakan piaraan (peliharaan) dari aparat penegak hukum. Akibat postingan terdakwa, menimbulkan rasa ketidaknyamanan dan penilaian negatif pada Ali Azrizal karena nama baiknya menjadi tercemar dan menimbulkan kebencian orang lain.

“Perbuatan terdakwa tanpa seizin dari Ali Azrizal yang mengakibatkan sebagai orang yang berada pada foto asli yang dilakukan postingan oleh terdakwa tersebut merasa keberatan dan merasa nama baiknya telah dicemarkan,” beber Nelson. (RD)

Berita sebelumyaMendagri Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Wagub Papua Klemen Tinal
Berita berikutnyaVaksin Dijual ke Warga Perumahan di Jakarta