Divonis 9 Tahun, Warga Tanjung Balai Terbukti Edarkan Ekstasi 2 Ribu Butir

155
Sidang kasus narkotika ekstasi berlangsung di PN Medan. Terdakwa divonis 9 tahun. (Garuda)
Sidang kasus narkotika ekstasi berlangsung di PN Medan. Terdakwa divonis 9 tahun. (Garuda)

garudaonline – Medan | Majelis hakim yang diketuai oleh Dahlia Panjaitan menghukum terdakwa Ahmad Dhairobi alias Robi (27) selama 9 tahun penjara dan denda sebesar Rp 1 miliar subsider 3 bulan penjara.

Warga Jalan HM Yamin Kecamatan Tanjung Balai Utara Tanjung Balai ini terbukti mengedarkan/menjual narkotika jenis pil ekstasi sebanyak 2.000 butir.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Ahmad Dhairobi alias Robi selama 9 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan pidana penjara selama 3 bulan,” ujar hakim Dahlia dalam sidang virtual di Ruang Cakra VI Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (23/4/2021).

Majelis hakim berpendapat, hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas narkotika. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan serta mengakui dan menyesali perbuatannya.

“Perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,” cetus hakim Dahlia.

Menanggapi putusan tersebut, penasihat hukum terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Novrika menyatakan pikir-pikir. Putusan ini lebih rendah dari tuntutan JPU selama 11 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara.

Dalam dakwaan JPU Novrika, pada tanggal 15 Oktober 2020, petugas kepolisian yang sedang menyamar menghubungi terdakwa Ahmad Dhairobi untuk membeli ekstasi 1.000 butir. Lalu, terdakwa bertemu dengan calon pembeli tersebut.

“Saat itu, petugas meminta agar terdakwa menyiapkan ekstasi 2.000 butir sambil menunjukkan uang cas. Tergiur dengan uang, terdakwa setuju dan ekstasi dijanjikan besok,” ujar JPU.

Kemudian, terdakwa menghubungi Mukmin Mulyadi (DPO) dan mengatakan bahwa ada calon pembeli yang memesan ekstasi 2.000 ribu butir. Lalu, terdakwa menemui Mukmin di sebuah gudang, Jalan Sudirman Tanjung Balai.

Dari hasil pembicaraan, ekstasi 2.000 butir itu ternyata milik Gimin Simatupang. Setelah itu, Gimin menyerahkan ekstasi 2.000 butir kepada Mukmin di sebuah gudang.

“Selanjutnya, petugas menghubungi terdakwa dan mereka sepakat untuk melakukan transaksi di Jalan Batutujuh. Saat bertemu, Mulyadi yang memegang barang haram tersebut meminta agar terdakwa membawa calon pembeli itu ke sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” tandas Novrika.

Setiba di lokasi, terdakwa menemui calon pembeli yang berada di alam mobil. Sementara Mukmin dan Gimin mengikuti dari belakang dengan mengendarai kereta.

“Ketika menyerahkan plastik berisi ekstasi, terdakwa langsung ditangkap. Petugas juga melakukan pengejaran terhadap Mukmin dan Gimin. Namun, petugas hanya berhasil menangkap Gimin, sementara Mukmin melarikan diri,” pungkas JPU dari Kejatisu tersebut. (RD)

Berita sebelumyaDemi Memotivasi Teman, Messi Lepas Peluang Hetrik
Berita berikutnyaMabes Polri Serahkan Enam Tersangka dan Barang Bukti 50 Kg Sabu