Divonis Nebis De In Idem, Sidang Pembunuhan Anggota PP Ricuh

167

garudaonline – Medan | Dua terdakwa perkara dugaan pembunuhan Sunardi alias Gundok (44) dan Syafwan Habibi (36), keduanya merupakan anggota Ikatan Pemuda Karya (IPK), divonis nebis de in idem oleh majelis hakim yang diketuai Abdul Kadir.

Putusan itu membuat kerabat korban, Syahdilla (anggota PP) mengamuk di Pengadilan Negeri (PN) Medan.

“Mengadili, menyatakan dakwaan dan tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima. Memerintahkan penuntut umum untuk mengeluarkan para terdakwa dari tahanan setelah putusan ini diucapkan,” ujar hakim dalam sidang virtual di Ruang Cakra III, Rabu (24/3/2021).

Majelis hakim menilai, perkara ini nebis de in idem sehingga terdakwa tidak dapat diadili lebih dari satu kali atas satu perbuatan. Apabila sudah ada keputusan yang menghukum atau membebaskannya.

Setelah majelis hakim membacakan putusan, sontak keluarga korban berteriak, hingga berusaha mengejar hakim. Massa yang terlihat kompak menggunakan kopiah putih ini berteriak minta keadilan kepada majelis hakim. Sehingga polisi turun tangan berusaha untuk melerai suasana.

“Tidak ada rasa keadilan, ada korban yang tewas. Kita minta ketiga hakim itu dihadirkan kemari, kita minta pertanggungjawaban mereka. Gimana kalau kejadian ini menimpa anaknya. Perkara ini beda dengan perkara sebelumnya,” teriak kuasa hukum korban, M Amrul Sinaga.

Tidak hanya itu, keluarga korban yang nampak hadir di persidangan bahkan terlihat menangis sembari berteriak meminta agar hakim segera hadir ke hadapan mereka.

“Perkara ini jelas berbeda (dari perkara sebelumnya). Laporan kita juga berbeda, kenapa tiba-tiba nebis de in idem diungkit di sini,” katanya.

Pantauan wartawan, suasana di gedung pengadilan pun semakin memanas hingga warga yang tadinya mengantre berlarian meninggalkan PN Medan.

Diketahui, perkara ini sebelumnya sudah disidangkan PN Medan. Ada tujuh orang yang sudah diadili. Lima terdakwa lain yang turut membunuh Syahdilla divonis 6 tahun penjara. Kemudian, dua terdakwa lain divonis 9 bulan penjara.

Dalam dakwaan JPU Ramboo Loly Sinurat, pembunuhan terhadap Syahdilla ini berawal pada Minggu tanggal 8 September 2019 sekitar jam 16.30 WIB.

Saat itu, baru saja berlangsung Rapat Pemilihan Pimpinan Anak Ranting Pemuda Pancasila Pangkalan Mansyur di Kantor Kelurahan Pangkalan Mansyur.

Syahdilla bersama beberapa temannya dari PP saat itu disebut pergi menuju warung di Jalan Eka Rasmi untuk bersilaturahmi dengan IPK, tempat terdakwa Sunardi alias Gundok nongkrong.

Kala itu, Syahdilla ingin menanyakan soal spanduk milik PP yang dicopot oleh anggota IPK. Tak disangka, begitu Syahdilla tiba di lokasi, cekcok terjadi. Syahdilla dihantam habis-habisan hingga meninggal dunia.

(rd)

Berita sebelumyaBocah 9 Tahun Temukan Granat Nanas di Medan Timur
Berita berikutnyaTilang Elektronik di Sumut akan Diterapkan April 2021