Divonis Percobaan, Julianna Phan dan Putra Martono Terbukti Berzinah

178
Kedua terdakwa saat mendengarkan putusan. (Ist)
Kedua terdakwa saat mendengarkan putusan. (Ist)

garudaonline – Medan | Terdakwa Julianna Phan (34) dan Putra Martono (39) hanya divonis masing-masing selama 4 bulan penjara dengan masa percobaan 8 bulan. Keduanya dinyatakan terbukti melakukan perzinahan.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Julianna Phan dan Putra Martono dengan pidana penjara masing-masing selama 4 bulan dengan masa percobaan 8 bulan,” ujar Hakim Ketua, Jarihat Simarmata di Ruang Cakra VII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/6/2021).

Menurut majelis hakim, pidana tersebut tidak usah dijalani kedua terdakwa kecuali jika di kemudian hari ada putusan majelis hakim yang menentukan lain disebabkan karena terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 8 bulan terakhir.

Majelis hakim berpendapat, kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 284 ayat (1) ke-1 huruf a KUHPidana yakni seorang wanita/pria yang telah kawin melakukan perzinahan.

Menanggapi putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho menyatakan pikir-pikir. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan masing-masing selama 4 bulan penjara.

Di luar persidangan, saksi korban sangat kecewa atas putusan majelis hakim yang tidak berkeadilan. Hal itu diungkapkan korban ketika dimintai tanggapannya terkait vonis yang dijatuhkan kepada kedua terdakwa.

“Untuk itu, saya memohon kepada JPU agar mengajukan banding. Kita sangat kecewa, karena putusan ini sangat tidak adil dan tidak memberi efek jerah kepada kedua terdakwa,” ucap korban kepada wartawan.

Pasalnya, akibat perkara tersebut, kondisi keluarganya menjadi berantakan dan korban harus menghidupi ketiga anaknya yang masih bersekolah.

“Maka dari itu, saya meminta kepada JPU agar mengajukan banding. Saya selaku korban sangat kecewa dengan putusan hakim yang menjatuhkan hukuman kepada kedua terdakwa hanya 8 bulan percobaan. Padahal keduanya terbukti bersalah, apalagi perbuatan keduanya dilarang dalam agama manapun,” pungkas korban.

Dalam dakwaan JPU Chandra Priono Naibaho, pada Mei 2017, terdakwa Putra Martono (berstatus suami korban) dan Julianna Phan (berstatus istri orang) berkenalan hingga bertemu di Vista Gym Plaza Medan Fair Jalan Gatot Subroto Medan. Sehingga kedua terdakwa saling bertukar nomor hape yang membuat hubungan mereka semakin dekat.

Keduanya juga sering berjanji bertemu dan makan bersama. “Pada Agustus 2017, kedua terdakwa memutuskan berpacaran. Saat itu, Putra Martono menyadari bahwa dirinya masih terikat pernikahan dengan AP (saksi korban) sesuai Kutipan Akta Perkawinan Kota Medan Nomor 527/2008,” ujar JPU.

Putra Martono juga menyadari bahwa Julianna Phan sudah menikah. Tak lama, korban mengetahui hubungan keduanya dan sempat menegur Julianna Phan. Ketika ditegur, Julianna Phan berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Putra Martono.

Namun pada Oktober 2017, keduanya pergi ke Malaysia dan tidur bersama di dalam satu kamar. Di dalam kamar tersebut, Putra Martono dan Julianna Phan melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Pada Kamis tanggal 11 September 2020 sekira jam 18.00 WIB, kedua terdakwa kembali menginap di Hotel Deli Jalan Abdullah Lubis Kelurahan/Desa Babura Kecamatan Medan Baru dan melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Selanjutnya pada Sabtu tanggal 19 September 2020 sekira jam 18.00 WIB, ketika kedua terdakwa berada di Cambridge City, korban datang ke lokasi sehingga terjadi keributan yang membuat Julianna Phan pergi.

Putra Martono yang merasa khawatir langsung pergi menemui Julianna Phan dan mengajaknya menginap di kamar nomor 306 Hotel Deli. Pada Minggu tanggal 20 September 2020 sekira jam 04.00 WIB, pintu kamar hotel yang ditempati kedua terdakwa diketuk oleh room boy atas permintaan korban.

“Saat pintu dibuka, Julianna Phan yang melihat korban menjadi terkejut dan berusaha menutup wajahnya dengan rambut. Di mana, posisi Putra Martono berada di atas tempat tidur dengan memakai celana dalam dan baju kaos. Sedangkan Julianna Phan memakai baju tidur serta celana dalam dan BH-nya terletak di rak,” pungkas JPU dari Kejari Medan itu.

Korban yang melihat perbuatan itu, langsung melaporkannya ke Polrestabes Medan. Akibat perbuatan kedua terdakwa, korban merasa malu terhadap keluarga dan sering menangis di dalam kamar. (RD)

Berita sebelumyaPWI Binjai Dukung Polisi Ungkap Kasus Pembakaran Rumah Wartawan
Berita berikutnyaHendro Susanto : Dugaan 16 ‘Siswa Siluman’ di MTsN Binjai Harus Diusut Tuntas