Gubernur Jatim Pimpin Apel Kontijensi Bencana Alam di Makodam V Brawijaya

314
Pangdam V Brawijaya Mayjend TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Kaskoarmada II Laksma TNI Rahmad Jayadi dampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pimpin apel kontijensi penanggulangan bencana di Makodam V Brawijaya, Senin (25/10/2021)

garudaonline – Surabaya | Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa pagi tadi memimpin apel gelar pasukan dan peralatan dalam rangka kontijensi kesiapan penanggulangan bencana alam tahun 2021.

Apel yang dihadiri Pangdam V Brawijaya Mayjend TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Kaskoarmada II Laksma TNI Rahmad Jayadi ini digelar di Makodam V Brawijaya.

Adapun peserta apel terdiri dari 825 personel TNI/Polri, BPBD dan Dinkes Provinsi Jatim. Sedangkan peralatan yang disiapkan untuk penanganan bencana alam antara lain, ambulans, truk evakuasi korban, kendaraan covid hunter, kendaraan videotron bidhumas, genset darurat, perahu karet, tenda darurat BPBD dan Dinsos Provinsi Jatim serta dapur umum lengkap.

“Seluruh stakeholder harus sudah membangun sinergitas dalam menyiapkan segala sesuatu yang terkait dengan kemungkinan jika ada puncak hujan di bulan November sampai dengan Januari, Februari 2022 yang seringkali dikenal dengan bencana alam hidrometeorologi,” ujar Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

Menurut Khofifah, hidrometeorologi ini bisa karena cuaca ekstrem, bisa hujan dengan kapasitas air yang sangat tinggi, bisa kemudian berakibat pada longsor dan juga bisa karena perubahan iklim global.

“Oleh karena itu semua lini, jadi Forkopimda di jajaran Pemprov, Forkopimda kabupaten /kota, seluruh relawan Basarnas, semua sudah harus bersinergi melakukan kesiapsiagaan, melakukan mitigasi, untuk bisa mengantisipasi segala sesuatu yang harus kita lakukan, antisipasi secara komperhensif,” tandasnya.

“Jadi setiap bencana alam berpotensi terhadap bertambahnya kemiskinan, bahkan bisa sampai di atas 50%, nah 80% Jawa Timur ini berpotensi terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam, bencana alam akibat hidrometeorologi ini bisa berakibat pada rusaknya infrastruktur, kemudian rumah, karena bisa juga berseiring dengan angin puting beliung, ada hujan ada angin puting beliung, ada longsor dan seterusnya,” Khofifah menambahkan.

Selain itu, Khofifah juga mengingatkan kepada setiap daerah yang dulu sudah mendapatkan pelatihan siaga bencana sudah harus menyiapkan relawannya, karena secara scientific bisa di prediksi.

“Oleh karena itu, daerah-daerah yang dulu sudah pernah mendapatkan pelatihan di kampung siaga bencana, atau Kampung tangguh, ini sama-sama harus sudah menyiapkan relawannya kita tidak berharap bahwa bencana alam itu terjadi, tapi kita harus tetap melakukan kesiapsiagaan karena memang secara scientific itu bisa diprediksi,” pungkasnya.

(rel/wan)

Berita sebelumyaJM Poldasu Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Farianda sebagai Ketua PWI Sumut 2021-2026
Berita berikutnyaBanjir Rendam Puluhan Rumah di Nias