Harga Kebutuhan Pangan di Medan Terkendali Saat Natal

377
Harga telur ayam mengalami kenaikan lantaran sejumlah pedagang besar atau distributor mereka sementara libur.

garudaonline – Medan | Harga sejumlah kebutuhan pokok masih bergerak stabil saat perayaan Natal meskipun terjadi gejolak pada komoditas pangan tertentu. Namun gejolak harga terbilang sangat terbatas.

“Dan gejolak hanya terjadi pada level pedagang pengecer. Yang artinya ini lebih dikarenakan jumlah pedagang yang berkurang saat perayaan natal itu sendiri,” kata Pengamat Ekonomi, Gunawan, Minggu (26/12/2021).

Harga telur ayam mengalami kenaikan lantaran sejumlah pedagang besar atau distributor mereka sementara libur. Sehingga memang ada kenaikan harga telur ayam sekitar Rp100 per butir. Di tingkat pedagang pengecer per butir telur itu ada yang dihargai Rp1.600.

Selanjutnya ada kenaikan harga minyak goreng curah sebesar Rp1.000 per liter untuk minyak goreng curah. Minyak goreng curah dijual sekitar Rp9.000 per liternya, dari sebelumnya sebesar 8.000 per liternya. Untuk minyak goreng kemasan harganya dijual antara Rp19.000 hingga Rp22.000 per liternya.

“Kalau berkaca kepada harga CPO dunia, memang sepekan sebelumnya harga CPO itu naik. Dari awal pekan yang harganya sempat turun ke level 4.295 Ringgit per ton, menjadi 4.470-an ringgit per tonnya. Namun, untuk minyak goreng ini belum menunjukan tren harga turun sekalipun dalam sebulan lebih harga CPO anjlok dari posisi 5.000-an ringgit per ton sebelumnya,” ujarnya.

Untuk harga cabai rawit juga demikian, mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Rata-rata naik Rp10.000 per Kg. Sehingga cabai rawit saat ini dijual di kisaran angka 60 ribuan per Kg. Kenaikan harga cabai rawit ini lebih dipicu karena kenaikan harga cabai rawit di Jawa yang saat ini ada yang dijual di atas 100 ribu per Kg.

“Selebihnya untuk komoditas pangan selama natal semuanya bergerak stabil. Tidak ada yang bergejolak dengan angka yang lebar. Dan saya melihat fluktuasi untuk komoditas pangan ini sebenarnya hanay bersifat sementara. Tidak akan berlangsung lama. Karena pada saat Natal memang kerap ditemukan adanya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan,” paparnya.

Hal ini dipicu oleh aktifitas masyarakat, khususnya petani dan pedagang maupun konsumen yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk ibadah, istirahat maupun berwisata.

“Akan tetapi kita jangan lengah, karena sejatinya konsumsi masyarakat cenderung mengalami kenaikan selama sepekan ke depan hingga tahun baru,” pungkasnya.

(Nor)

Berita sebelumyaBentrokan Pecah di Klambir V Satu Tewas
Berita berikutnyaMenhub-Kakorlantas Polri Cek Penerapan Prokes di Bandara Juanda dan Terminal Purabaya