Korban Perkara Dugaan Perzinahan Sebut Keterangan Saksi dan Terdakwa Berbeda

691

garudaonline – Medan | AP, korban perkara dugaan perzinahan tanpa izin menyebut bahwa keterangan saksi dan terdakwa berbeda.

Hal itu menanggapi persidangan dengan terdakwa Julianna Phan (34) dan Putra Martono (39) di Ruang Cakra VII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (23/3/2021).

Persidangan tertutup ini dipimpin oleh Hakim Ketua, Jarihat Simarmata. Sidang tersebut beragendakan keterangan saksi meringankan yang dihadirkan penasehat hukum kedua terdakwa yakni Sumarni selaku teman Julianna Phan dan Irawadi selaku mantan supir Putra Martono. Hal itu dibenarkan oleh korban dalam perkara ini berinisial AP yang mengikuti persidangan tersebut.

“Sumarni yang dihadirkan di persidangan sebelum memberikan kesaksian sempat ditegur hakim karena memakai rok yang sangat pendek. Masa dipersidangan roknya sangat pendek sekali seperti tidak menghargai persidangan dan majelis hakim,” ucap korban kepada wartawan, Kamis (23/3/2021).

Dalam persidangan, lanjut korban, Sumarni mengaku tidak mengenal dengan Putra Martono. Namun, Sumarni mengenal dan telah berteman selama 7 tahun dengan Julianna. Menurut korban, Sumarni juga mengaku bahwa saat di Kuala Lumpur, mereka hanya berlima dan semuanya wanita. Saat itu, Sumarni mengaku tidak pernah melihat terdakwa Putra Martono.

“Kan jadi aneh bang, keterangan Sumarni mengatakan hanya berlima wanita semua. Alasan tujuan ke Kuala Lumpur untuk shopping dan tidak pernah melihat suami saya (Putra Martono),” cetus korban. Padahal, sambung korban, keterangan terdakwa Julianna Phan dalam dakwaan, dia (Julianna Phan) pergi bersama Putra Martono ke Kuala Lumpur.

“Keterangan saksi sangat bertentangan  dengan dakwaan jaksa. Sedangkan berdasarkan pernyataan terdakwa sendiri di dalam berkas, telah mengakui perbuatannya. Hal itu juga dipertegas jaksa Chandra saat mempertanyakan kepada Sumarni terkait Julianna Phan dengan Putra Martono pergi ke Kuala Lumpur,” terang korban.

Dilanjutkan korban, Sumarni juga sempat ditegaskan jaksa agar tidak memberikan keterangan palsu. Karena keterangan terdakwa Julianna Phan sendiri yang mengatakan telah pergi dengan terdakwa Putra Martono ke Kuala Lumpur.

“Dalam persidangan, jaksa mempertegas kepada Sumarni dengan mempertanyakan apakah saksi ada melihat dan mengetahui terdakwa Putra Martono. Namun, Sumarni sejenak terdiam bang dan mengatakan tidak. Namun keterangan terdakwa Julianna Phan pergi bersama suami saya,” lanjutnya

Dari sidang tersebut, korban meminta agar jaksa menuntut kedua terdakwa sebagaimana perbuatan yang harus dipertanggung jawabkan dan seadil adilnya. “Saya minta kepada jaksa agar dapat menegakkan keadilan yang seadil-adilnya. Karena atas kasus ini saya banyak dirugikan secara moril dan materill. Akibat perbuatan wanita tersebut, saya juga digugat cerai suami saya. Saya hanya memikirkan nasib anak-anak yang masih kecil-kecil. Sekali lagi saya mohon jaksa dan hakim agar menegakkan hukum agar dapat membuat kedua pelaku jerah,” harap korban.

Terpisah, JPU Chandra membenarkan hal tersebut. “Keterangan saksi Sumarni berbeda dengan keterangan terdakwa. Makanya di persidangan saya pertegas lagi,” ucap Chandra. JPU juga menyatakan saksi Sumarni sempat ditegur hakim karena pakaian yang dikenakannya ke persidangan kurang sopan. “Itu hakim yang menegur,” tandas Chandra.

Dalam dakwaan JPU Chandra Priono Naibaho, pada Mei 2017, terdakwa Putra Martono dan Julianna Phan berkenalan hingga bertemu di Vista Gym Plaza Medan Fair Jalan Gatot Subroto Medan. Sehingga kedua terdakwa saling bertukar nomor hape yang membuat hubungan mereka semakin dekat.

Keduanya juga sering berjanji bertemu dan makan bersama. “Pada Agustus 2017, kedua terdakwa memutuskan berpacaran. Saat itu, Putra Martono menyadari bahwa dirinya masih terikat pernikahan dengan AP (saksi korban) sesuai Kutipan Akta Perkawinan Kota Medan Nomor 527/2008,” ujar JPU.

Putra Martono juga menyadari bahwa Julianna Phan sudah menikah. Tak lama, korban mengetahui hubungan keduanya dan sempat menegur Julianna Phan. Ketika ditegur, Julianna Phan berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Putra Martono.

Namun pada Oktober 2017, keduanya pergi ke Malaysia dan tidur bersama di dalam satu kamar. Di dalam kamar tersebut, Putra Martono dan Julianna Phan melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Pada Kamis tanggal 11 September 2020 sekira jam 18.00 WIB, kedua terdakwa kembali menginap di Hotel Deli Jalan Abdullah Lubis Kelurahan/Desa Babura Kecamatan Medan Baru dan melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Selanjutnya pada Sabtu tanggal 19 September 2020 sekira jam 18.00 WIB, ketika kedua terdakwa berada di Cambridge City, korban datang ke lokasi sehingga terjadi keributan yang membuat Julianna Phan pergi.

Putra Martono yang merasa khawatir langsung pergi menemui Julianna Phan dan mengajaknya menginap di kamar nomor 306 Hotel Deli. Pada Minggu tanggal 20 September 2020 sekira jam 04.00 WIB, pintu kamar hotel yang ditempati kedua terdakwa diketuk oleh room boy atas permintaan korban.

“Saat pintu dibuka, Julianna Phan yang melihat korban menjadi terkejut dan berusaha menutup wajahnya dengan rambut. Di mana, posisi Putra Martono berada di atas tempat tidur dengan memakai celana dalam dan baju kaos. Sedangkan Julianna Phan memakai baju tidur serta celana dalam dan BH-nya terletak di rak,” pungkas JPU dari Kejari Medan itu.

Korban yang melihat perbuatan itu, langsung melaporkannya ke Polrestabes Medan. Akibat perbuatan kedua terdakwa, korban merasa malu terhadap keluarga dan sering menangis di dalam kamar. Perbuatan kedua terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 284 ayat (1) ke-1 atau ke-2 huruf a KUHPidana.

(rd)

Berita sebelumyaKetua TP-PKK Langkat Terus Bergerak Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga
Berita berikutnyaKabel Listrik PLN Dicuri Maling, Medan Gelap Gulita