Menghasut Terkait Aksi Demo, Ketua KAMI Medan Divonis 1 Tahun

132
Terdakwa, Ir Khairi Amri dan Wahyu Rasasi Putri. (Ist) 
Terdakwa, Ir Khairi Amri dan Wahyu Rasasi Putri. (Ist) 

garudaonline – Medan | Ketua Koalisi Aksi Masyarakat Indonesia (KAMI) Medan, Ir Khairi Amri divonis selama 1 tahun penjara. Pria 46 tahun ini dinyatakan terbukti menghasut supaya melakukan perbuatan pidana terkait aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja (Omnibus Law).

“Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa Khairi Amri selama 1 tahun,” tandas Hakim Ketua, Syafril Pardamean Batubara dalam sidang virtual di Ruang Cakra VIII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (19/5/2021).

Majelis hakim berpendapat, perbuatan Khairi memicu timbulnya tindak pidana lain seperti aksi kerusuhan hingga pelemparan dalam demo UU Omnibus Law.

Selain itu, Khairi juga membuat postingan yang menghujat Polri dan DPRD Sumut dengan kata-kata yang kurang pantas. Sedangkan hal meringankan, Khairi bersikap sopan selama persidangan. “Perbuatan terdakwa Khairi Amri terbukti melanggar Pasal 160 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana,” pungkas hakim Syafril.

Putusan itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arief Sutanto selama 2 tahun penjara. Menanggapi vonis tersebut, baik JPU maupun terdakwa menyatakan pikir-pikir. Sementara itu, terdakwa Wahyu Rasasi Putri dihukum selama 7 bulan 10 hari penjara.

Namun, karena sudah menjalani hukuman sesuai dengan putusan, maka Wahyu akan bebas paling lama pada Kamis (20/5/2021) pukul 00.00 WIB. “Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Wahyu Rasasi Putri selama 7 bulan 10 hari, dipotong masa tahanan,” ujar Hakim Ketua, Tengku Oyong.

Senada dengan dua terdakwa lain yakni Novita Zahara dan Juliana yang dihukum masing-masing selama 7 bulan 12 hari. Keduanya juga akan keluar dari tahanan sebelum pukul 00.00 WIB. Putusan terhadap dua terdakwa ini dibacakan oleh Hakim Ketua, Jarihat Simarmata.

Perbuatan ketiga terdakwa dinyatakan terbukti melanggar Pasal 45A ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sebelumnya, Wahyu dituntut selama 1 tahun penjara. Sedangkan Novita Zahara dan Juliana dituntut masing-masing selama 1 tahun 3 bulan penjara. Atas putusan itu, raut wajah ketiga terdakwa tampak menangis bahagia karena sebentar lagi akan menghirup udara segar.

Dalam dakwaan JPU Arief Susanto, Umriani dan Nur Ainun, pada akhir September 2020, terdakwa Ir Khairi Amri telah berinisiatif untuk membentuk komunitas KAMI Medan secara independen. Seperti KAMI yang dideklarasikan oleh Gatot Nurmantiyo selaku mantan Panglima TNI meskipun keduanya tidak berkaitan.

“Dalam rangka pembentukan itu, Khairi Amri berinisiatif membuat Grup WhatsApp yang menamakan diri KAMI Medan dan beranggotakan 70 orang terdiri dari berbagai elemen masyakat seperti mahasiswa, buruh dan ibu rumah tangga,” ujar JPU Arief.

Maraknya aksi unjuk rasa di berbagai wilayah Indonesia berkaitan dengan penolakan rencana pengesahaan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) oleh Pemerintah telah menjadi bahan perbincangan dalam Grup WhatsApp KAMI Medan.

Khairi Amri mendukung adanya rencana aksi unjuk rasa yang akan dilakukan oleh mahasiswa di Medan pada tanggal 8 Oktober 2020 di depan Kantor DPRD Sumut. Selain itu, Khairi Amri menyampaikan pesan kepada sesama anggota Grup Whatsapp dengan memposting kalimat: ‘Bagi kawan-kawan yang akan mengikuti AKSI DEMO di DPRD SUMUT, carilah titik kumpul yang aman dan jangan terpisah dari kawan kawan’.

“Khairi Amri yang juga berencana akan mengikuti aksi tersebut menyatakan rasa kebenciannya terhadap golongan tertentu yakni anggota Polri,” sambung Umriani. Khairi Amri memposting di Grup Whatsap pada jam 07.41 WIB dengan kalimat:

‘Gawat x ah… Wercok ini… Baru lagi saya dapat telpon mengingatkan,,, kalau KAMI dan PETA jangan turun aksi…. Paranoid ini saya pikir…  Bahkan melarang saya hadir ke sana… Saya jawab…. Kelen aja lah yang jangan kesana…. Aku kerja dan cari makan di gedung DPRD SUMUT sejak 2004’. Postingan ini diteruskan ke orang lain yang bunyinya:

‘Yg penting KAMI dan PETA tdk ikut2an’ yang diikuti postingan dari kalimat Khairi Amri sendiri (emoji/gambar jari tangan menunjukkan pesan ke atas) ini WA-nya. “Di mana, postingan pesan kalimat tersebut telah ditujukan kepada seluruh anggota Grup WhatsApp KAMI Medan dengan maksud agar turut membenci atau memusuhi Polri,” lanjut Nur Ainun.

Wercok merupakan singkatan dari wereng coklat yang ditujukan Khairi Amri untuk polisi. Supaya anggota Grup WhatsApp tidak takut terhadap larangan polisi untuk melakukan aksi unjuk rasa. Selain Polri, terdakwa juga memposting yang menghina DPR. Postingan Khairi Amri bermaksud merubah pola pikir sekaligus mengajak atau mempengaruhi anggota grup tersebut agar membenci kelompok golongan tertentu yakni DPR.

Dalam aksi unjuk rasa itu, terdakwa yang berada di tengah-tengah massa dengan suara lantang dan keras telah meneriakkan kalimat: ‘LEMPARI POLISI, ANJING POLISI, DPR PENGKHIANAT RAKYAT, TOLAK OMNIBUS LAW !’. Khairi Amri telah menyadari sepenuhnya bahwa teriakan tersebut bersifat provokatif agar massa melakukan pelemparan kepada polisi dan menebarkan kebencian terhadap anggota DPR.

“Akibat kericuhan tersebut, terjadi kerusakan Kantor DPRD dan luka-luka polisi. Bahkan, saat membubarkan diri dan melintas di Jalan Sekip Simpang Jalan Mangaan, massa telah melakukan pengrusakan serta pembakaran satu unit mobil Nissan Terrano warna silver milik RS Bhayangkara Medan,” pungkas Arief. (RD)

Berita sebelumyaCegah Pemudik Lewat Sungai, Polisi Patroli di Perbatasan Deliserdang-Sergai
Berita berikutnyaKabid Humas Polda Sumut: Posko Satgas Covid-19 akan Dioptimalkan Hingga ke Dusun