Nipu Modus Investasi Bodong, Wanita Paruh Baya Divonis 2 Tahun 9 Bulan

303
Saat persidangan berlangsung

garudaonline – Medan | Seorang wanita paruh baya berusia 51 tahun bernama Naikta Revina Sembiring divonis selama 2 tahun 9 bulan penjara.

Warga Jalan Sawit Raya Perumnas Simalingkar Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan/Jalan Sei Ular Baru Kelurahan Babura Kecamatan Medan Sunggal ini terbukti melakukan penipuan dengan menjalankan investasi ‘bodong’ hingga meraup keuntungan miliaran rupiah.

“Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa Naikta Revina Sembiring selama 2 tahun 9 bulan,” tandas Hakim Ketua, Sayed Tarmizi dalam sidang virtual di Ruang Cakra III Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (25/8/2021).

Majelis hakim berpendapat, hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Sedangkan hal meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum, bersikap sopan dan menyesali perbuatannya.

“Perbuatan terbukti melanggar Pasal 378 KUHPidana Tentang Penipuan sebagaimana dakwaan pertama penuntut umum,” cetus hakim Sayed.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irma Hasibuan yang menuntut terdakwa selama 3 tahun penjara. Menyikapi putusan tersebut, terdakwa mengaku terima.

Dalam dakwaan JPU Irma Hasibuan, pada tahun 2018 sampai 2019, terdakwa Naikta Revina Sembiring berhasil merayu para korban dan sempat menghimpun dana hingga miliaran rupiah. Sejumlah warga jadi korban atas bisnis investasi belakangan diketahui ‘bodong’ tersebut hingga ratusan juta rupiah.

Awalnya, pada Januari 2019, Tio Rista Purba bertemu Lusianna Beru Ginting. Dalam pertemuan itu, Tio mengatakan bahwa dia ikut dalam kegiatan Titip Trading Usaha Bersama (TTUB) yang dipegang oleh terdakwa.

“Lalu, Lusianna dipertemukan dengan terdakwa. Kemudian, terdakwa menawarkan jenis paket-paket TTUB menjanjikan keuntungan seolah ada tutup backup dana senilai Rp 2 miliar,” ujar JPU.

Lusianna pun tergiur dan secara bertahap percaya dengan perkataan terdakwa. Pada Februari hingga April 2019, secara bertahap Lusianna menyetorkan uang sebesar Rp 205.500.000 dan menerima keuntungan Rp 33.852.000.

Namun, pada pertengahan Mei 2019, Tio Rista Purba bukan hanya tidak lagi menerima keuntungan sebagaimana dijanjikan. Modal investasinya juga tidak kembali.

Korban lain, Jani Karokaro yang sempat invest sebesar Rp 853.400.000 sejak Agustus 2018 sudah melakukan investasi. Tapi, terdakwa tidak bisa mempertanggungjawabkan uang Jani sebesar Rp 435.916.000.

(RD)

Berita sebelumyaTak Berharap Imbalan, Dua Guru Ngaji Desa Karang Rejo Patut Dipuji
Berita berikutnyaPanglima TNI dan Kapolri ke Jombang, Tinjau Vaksinasi Santri Tebuireng