Ombudsman Kritik Syarat PCR Bagi Penumpang Pesawat

184
Abyadi Siregar

garudaonline – Medan | Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) mengkritik syarat terbang bagi kru pesawat yang jauh lebih mudah dibanding penumpang. Bagi awak pesawat, cukup rapid tes antigen yang biayanya sekitar Rp100 ribu. Sedang masyarakat yang akan menggunakan jasa transportasi udara, wajib melakukan Polymerase Chain Reaction (PCR) mencapai Rp 550 ribu.

“Padahal, bila penerapan syarat rapid antigen atau PCR ini dimaksudkan untuk memutus penularan virus covid-19, maka risiko kru pesawat untuk tertular dan menularkan virus covid, sebetulnya juga sangat tinggi,” kata Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut Abyadi Siregar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/10).

Dalam sidak yang dilakukan ke Bandara Kualanamu, Deliserdang, Ombudsman RI Perwakilan Sumut mendapatkan bahwa awak pesawat dari dua maskapai penerbangan hanya menggunakan rapid antigen ketika akan “terbang”.

“Dalam Surat Edaran (SE) Menhub No 88 tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara pada Masa Pandemi Covid-19, disebutkan bahwa personel pesawat yang akan bertugas, wajib menunjukkan hasil negatif pemeriksaan PCR atau rapid tes antigen. Artinya, kru pesawat dibenarkan hanya menggunakan rapid tes antigen,” paparnya.

Menurut Abyadi, isi SE Menhub No 88 tahun 2021 yang membenarkan kru pesawat menggunakan rapid tes antigen sebagai syarat terbang, kurang tepat. Sementara masyarakat sebagai penumpang, diwajibkan menunjukkan surat keterangan PCR dengan hasil negatif. Padahal antara awak pesawat dan penumpang, sama-sama memiliki risiko tinggi tertular atau menularkan covid.

“Bahkan risiko awak pesawat untuk tertular dan menularkan covid lebih tinggi. Karena selama dalam menjalankan tugas, terus berinteraksi dengan penumpang dalam ruang tertutup yang tidak bebas udara,” kata Abyadi.

Apalagi, lanjut Abyadi, masa berlaku rapid tes antigen itu tidak lama. Selama surat keterangan rapid tes antigen itu masih berlaku, tidak ada dilakukan validasi. Sementara para kru pesawat bebas beraktivitas di luar jam kerja. Artinya, risiko awak pesawat untuk tertular dan menularkan covid itu juga sangat tinggi.

“Sebaiknya tidak ada perbedaan penerapan syarat “terbang” antara kru pesawat dengan penumpang. Karena antara kru pesawat dengan penumpang, sebetulnya memiliki risiko yang sama dalam penularan virus covid,” bebernya.

Diketahui, Pemerintah mulai memberlakukan test PCR untuk penumpang pesawat mulai Minggu (24/10/2021). Hal tersebut diatur dalam Surat Edaran (SE) Kementerian Perhubungan Nomor 88 Tahun 2021 yang ditetapkan sejak 21 Oktober 2021. Tes PCR hanya berlaku untuk penumpang pesawat dari dan ke Pulau Jawa-Bali.

Ada beberapa wilayah penerbangan yang masih diperbolehkan untuk rapid test antigen sebagai syarat perjalanan. Dimana rapid test antigen bisa digunakan sebagai syarat perjalanan dari dan ke luar Pulau Jawa dan Bali. Namun syarat ini hanya berlaku untuk wilayah PPKM Level 1 dan 2 yang ditetapkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2021. (Nor)

Berita sebelumyaIstri Tersangka Dicabuli, KontraS Minta Fokus Perlindungan Korban
Berita berikutnyaTekan Penyebaran Covid, Polres Batu Bara Gelar Operasi Yustisi Gabungan