Orangtua Siswa di Sumut Protes Uang Ujian Rp800 Ribu

136

garudaonline – Medan | Sejumlah orangtua siswa di Madrasah Tsanawiyah Swasta Al Jamiyatul Washliyah Pematang Pasir, Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara mengajukan protes terkait besarnya biaya ujian yang dikenakan oleh pihak sekolah.

Adapun biaya yang diwajibkan oleh pihak sekolah swasta tersebut total sebesar Rp800.000. Rinciannya biaya ujian praktik Rp50.000, ujian madrasah Rp160.000, ujian akhir madrasah berbasis komputer Rp250.000, ujian akhir Washliyah Rp50.000, biaya pas photo Rp50.000, biaya perpisahan dan wisuda Rp240.000

Para orangtua siswa mengaku keberatan dengan biaya tersebut. Ditambah lagi saat ini sedang berada pada kondisi pandemi yang berimbas pada ekonomi dan pendapatan warga.

“Cemana tak keberatan, biayanya Rp800.000. Keputusan dari pihak sekolah benar-benar menghimpit kami orangtua siswa. Kita makan aja megap-megap, tapi uang ujian diminta biaya segitu,” ujar Nurdin, salah satu orangtua siswa, Rabu (27/10).

Dia berharap pihak sekolah meninjau kembali besaran uang ujian yang dibebankan kepada orangtua siswa.

“Tolong pada pemerintah, atau kementerian agama menangani ini. Kami sudah susah, jangan lah biaya ujian sampai semahal itu. Berat kali sama kami Rp800 ribu itu,” paparnya.

Terpisah, Kepala Madrasah Tsanawiyah Swasta Al Jamiyatul Washliyah, Poniman mengatakan besaran uang ujian itu sudah ditetapkan dalam musyawarah bersama orangtua murid.

“Itu kesepakatan orang tua bersama. Karena sudah disetujui orang tua murid itu makanya kami edarkan suratnya. Mereka kan diundang untuk ikut rapat. Saat rapat orangtua siswa yang datang separoh. Jumlah siswa 40 orang, yang datang 20 sekian,” ucapnya.

Menurutnya uang ujian itu bisa dicicil sampai lima bulan yakni dari Oktober sampai akhir Maret 2022.

“Uang itukan dipakai juga untuk menggandakan soal, menyewa komputer satu hari Rp50 ribu. Itupun nanti kalau ujiannya manual, kami kembalikan uangnya. Kemudian untuk wisuda, itu digunakan untuk dana konsumsi, sewa teratak segala macam, makan wali murid. Wisudanya di sekolah nanti. Kami kan swasta tidak seperti negeri. Jadi ada hak otonomi kita itu. Makanya saya kecewa, saat rapat itu ternyata banyak yang gak datang sampai lebih separuh,” bebernya.

(Nor)

Berita sebelumya9 Pamen Polda Sumut Sukses Selesaikan Pendidikan Sespimmen 2021
Berita berikutnyaKAI Dinobatkan Kemenkeu sebagai Salah Satu Debitur Terbaik Kategori BUMN