Penahanan Mau Habis, Eks Plt Kakan Kemenag Madina Dituntut, Baca Pledoi dan Diputus

136
Majelis hakim membacakan putusan. 
Majelis hakim membacakan putusan. 

garudaonline – Medan | Tiga agenda yakni tuntutan, pembelaan (pledoi) dan putusan digelar satu hari dalam perkara suap jual beli jabatan dengan terdakwa Zainal Arifin Nasution selaku eks Plt Kepala Kantor (Kakan) Kemenag Mandailing Natal (Madina), Kamis (1/7/2021). Persidangan tidak biasa itu terjadi di Ruang Cakra II Pengadilan Tipikor Medan.

Awalnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Polim Siregar dan Umriani menuntut terdakwa selama 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan. Usai pembacaan tuntutan, sidang dilanjutkan dengan agenda pledoi. Dalam pembelaan yang dibacakan penasehat hukumnya, terdakwa mengaku dirinya terbujuk rayuan Nurkholidah Lubis.

Selanjutnya, Hakim Ketua, Bambang Joko Winarno membacakan putusan. “Karena masa penahanan sudah mau habis, langsung vonis ya,” ucapnya dalam sidang virtual.

Majelis hakim berpendapat perbuatan terdakwa terbukti melanggar Pasal 5 ayat (2) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

“Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa
Zainal Arifin Nasution selama 2 tahun penjara dan denda Rp 50 juta. Apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan,” pungkas hakim.

Menanggapi putusan tersebut, baik pihak terdakwa maupun JPU menyatakan pikir-pikir. Dalam perkara ini, eks Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Sumatera Utara (Kemenagsu), H Iwan Zulhami belum mendengarkan tuntutan.

Dalam dakwaan JPU Polim Siregar, awalnya terdakwa Zainal Arifin Nasution selaku salah satu Kepala Seksi (Kasi) beberapa kali mengusulkan dirinya untuk diangkat sebagai Kakan Kemenag Madina dan belum pernah disetujui. Saat itu, Kakan Kemenag Madina yakni Dur Berutu mendapat promosi menjadi pejabat di lingkungan Universitas Negeri Medan (Unimed).

“Karena kekosongan jabatan tersebut, terdakwa Iwan Zulhami mengangkat Masrawati Sipahutar sebagai Plt Kakan Kemenag Madina. Namun, saksi Nurkholidah Lubis selaku Kepala MAN 3 Medan berdiskusi dengan Iwan Zulhami mengenai pengisian jabatan Kakan Kemenag Madina merupakan seorang wanita sehingga kurang cocok,” ujar JPU.

Selanjutnya, Nurkholidah menginformasikan kepada Iwan Zulhami tentang Zainal Arifin untuk menduduki jabatan Kakan Kemenag Madina. Setelah pembicaraan itu, Nurkholidah menginformasikan kepada Zainal bahwa ada peluang untuk pengisian jabatan Kakan Kemenag Madina. Kemudian Zainal mengutarakan keinginannya untuk menduduki jabatan tersebut kepada Iwan Zulhami.

Iwan Zulhami menyanggupinya dan melalui Nurkholidah, disepakati ada pemberian uang sebesar Rp 700 juta untuk mengusulkan Zainal Arifin sebagai Kakan Kemenag Madina. “Pada tanggal 13 Mei 2019, Zainal membawa uang tunai sejumlah Rp 250 juta untuk diserahkan kepada Iwan Zulhami. Uang tersebut diberikan kepada Nurkholidah di ruang kerjanya, Sekolah MAN 3 Medan sekira jam 09.30 WIB,” cetus Polim Siregar.

Selanjutnya, Zainal dan Nurkholidah pergi ke rumah dinas Iwan Zulhami untuk menyerahkan uang tersebut. Tak lama, saksi Deni Zunaidi Barus selaku ajudan Iwan Zulhami menerima uang sebesar Rp 250 juta dari Nurkholidah. Atas permintaan dari Nurkholidah, pada tanggal 17 Mei 2019, Zainal mentransfer uang senilai Rp 100 juta ke rekening milik Zulkifli Batubara (suami Nurkholidah).

Pada tanggal 20 Mei 2019, Zainal menyerahkan uang sebesar Rp 50 juta kepada Nurkholidah di Rumah Sakit Permata Madina. Lalu, pada tanggal 23 Mei 2019, juga di rumah sakit tersebut, Zainal menyerahkan uang sebesar Rp 50 juta kepada Nurkholidah. Selanjutnya, tanggal 27 dan 28 Mei 2019, Zainal juga mentransfer uang sebesar Rp 250 juta kepada Nurkholidah.

“Setelah beberapa kali mentransfer uang tersebut, akhirnya Zainal Arifin diangkat sebagai Plt Kepala Kantor Kemenag Madina berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Sumatera Utara Nomor: 860/Kw.02/1-b/Kp.07.6/07/2019 tanggal 12 Juli 2019, yang ditandatangani oleh Iwan Zulhami,” tandas JPU dari Kejatisu tersebut.

Kemudian, pada tanggal 14 Januari 2020, Zainal kembali mentransfer uang kepada Nurkholidah sebesar Rp 50 juta. Uang yang diberikan Zainal telah diserahkan Nurkholidah kepada Iwan Zulhami melalui rekening milik ajudannya, Tragedi Barus.

Lalu, Iwan Zulhami menyuruh Barus mengirimkan uang Rp 200 juta kepada anaknya, Wan Isfan Zulhami yang sedang pendidikan di Jepang, untuk biaya hidup dan kuliah. Sehubungan untuk pengangkatan Zainal Arifin selaku Kakan Kemenag Madina, Iwan Zulhami menerima uang sebanyak Rp 750 juta. (RD)

Berita sebelumya251 Personel Polda Sumut Naik Pangkat
Berita berikutnyaBerkas Kasus Jual Beli Vaksin Dikirim ke Kejaksaan