Perkara Dugaan Akta Palsu, PH Korban: Perlu Rekonstruksi Kronologis Penerbitan Akta Nomor 8

122
Saksi Antoni saat memberikan keterangan

garudaonline – Medan | Sidang perkara dugaan akta palsu dengan terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong kembali berlanjut di Ruang Cakra VI Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (12/10/2021). Pada persidangan kali ini, salah seorang cucu almarhum Jong Tjin Boen bernama Antoni dihadirkan sebagai saksi untuk memberikan keterangan di hadapan Hakim Ketua, Dominggus Silaban.

“Apa yang saudara ketahui dari masalah yang menjadi perkara ini ? Saudara tau tidak soal akta nomor 8 itu ?,” tanya hakim Dominggus Silaban kepada saksi Antoni. Menjawab pertanyaan dari majelis hakim, saksi Antoni mengaku mengetahui adanya persoalan mengenai akta nomor 8 tentang perjanjian kesepakatan itu setelah diproses hukum di kepolisian.

“Sebelumnya saya tidak tau pak, tapi belakangan setelah di polisi baru saya tau. Beberapa kali saya juga dipanggil ditanya-tanya soal masalah itu,” kata Antoni. Namun, lagi-lagi anehnya keterangan yang disampaikan Antoni seolah serupa dengan saksi lain yang dihadirkan dalam sidang sebelumnya. Saksi mengaku bahwa para pihak termasuk almarhum kakeknya, Jong Tjin Boen hadir saat penandatanganan akta tersebut.

“Waktu itu posisi saya tidak di dalam ruangan mereka berkumpul. Tapi saya dengar isi akta itu dibacakan. Ada tentang persentase jumlah yang dibagi-bagikan,” sebutnya. Usai jalannya sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho yang ditemui wartawan menyebutkan, saksi Antoni mengaku hadir di rumah almarhum Jong Tjin Boen di Jalan Juanda Medan. Chandra menyebut, Antoni mengaku mendengar notaris  dan pegawainya membacakan akta tersebut.

“Saksi mengaku hadir di rumah almarhum Jalan Juanda tapi berada di luar ruangan dan mendengar akta itu dibacakan notaris. Saya katakan, bahwa keterangannya itu palsu, keadaan itu palsu,” sebut Chandra. Dijelaskan Chandra, bahwa setiap pembuatan akta, para pihak harus hadir dan berada di kantor notaris untuk menghindari hal-hal tak diinginkan.

“Terlebih sesuai alat bukti pada tanggal akta itu dibuat para pihak berada di Singapura mendampingi almarhum Jong Tjin Boen yang sakit dan dirawat di rumah sakit,” jelasnya. Chandra mengatakan bahwa adanya alat bukti petunjuk baru. Di mana keterangan Rismawati sebelumnya, menjelaskan hari, bulan, tanggal di Akte Nomor  8 tidak diisi dan semuanya diisi setelah Syamsudin datang.

“Kalau dirunut dari belakang, Rismawati mengatakan seminggu. Padahal saat itu pihak pertama dan pelapor itu berada di Singapura. Jadi sudah jelas, terang benderang ada bukti petunjuk disitu. Jadi disitulah ada keadaan palsunya,” katanya. Di sisi lain, Longser Sihombing SH MH selaku kuasa korban memohon kepada majelis hakim yang memeriksa perkara aquo agar dapat mengeluarkan penetapan atas dugaan keterangan palsu terhadap kedua saksi yang telah berbohong dan agar dapat dilakukan dimulainya penyidikan.

Dia juga memastikan bahwa tidak ada pertemuan di rumah qlmarhum Jong Tjin Boen yang berada di Jalan Juanda Baru Nomor 30 C Medan. Menurutnya, berdasarkan data void di paspor, Jong Tjin Boen sejak tanggal 30 Juni 2008 sedang berada di Singapura karena sedang sakit dan tanggal 12 Juli 2008 masuk rumah sakit Mount Elizabeth untuk opname.

“Dari alat bukti yang sah berupa paspor saksi Jong Gwek Jan pada tanggal 13 juli 2008 beliau ke rumah sakit membesuk ayahnya di Singapura dan pulang ke Indonesia tanggal 10 Agustus 2008. Bagaimana caranya saksi ini dan ayahnya tersebut menghadap Notaris Fujiyanto Ngariawan SH tanggal 21 Juli 20008 yang diuraikan dalam formal dan materi minut akta nomor 8 ? Artinya bertentangan dan keterangan saksi Antoni nyata sangat kontradiksi dengan fakta-fakta yang ada. Saya pastikan itu tidak benar berdasarkan alat bukti-bukti yang ada,” tegasnya.

Karena itu, fakta menurut alat bukti yang ada bertentangan dan keterangan saksi. Dirinya meminta agar JPU untuk melakukan rekonstruksi para saksi yang sudah diperiksa dan yang belum diperiksa saat pembuatan akta.

“Saudara Antoni mengatakan dia hadir di Rumah Juanda dan yang membacakan notaris Fujiyanto Ngariawan SH. Pegawainya dan dia mengatakan kalau ia berada di luar. Saya katakan, kalau keterangannya itu palsu, keadaan itu palsu,” pungkasnya.

(RD)

Berita sebelumyaWarga Temukan Mayat Wanita Mengapung di Kolam Galian Tanah Sei Rampah
Berita berikutnyaRampas Emas IRT, Pria ini Ancam Korban dengan Arit