PN Medan Tangguhkan Penahanan Terdakwa Pembunuhan Sadis

334

garudaonline – Medan | Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan menangguhkan penahanan terhadap terdakwa perkara dugaan pembunuhan berencana, Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango.

Hal itu terungkap dalam persidangan yang digelar di Ruang Cakra VIII PN Medan, Jumat (5/3/2021).

Edy Suwanto merupakan terdakwa perkara pembunuhan sadis yang berawal saat ditemukannya mayat tanpa identitas di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Kabupaten Karo. Kini, mayat tersebut diketahui bernama Jeffri Wijaya alias Asiong (korban).

Saat menghadiri persidangan, terdakwa terlihat didampingi sejumlah penasehat hukum. Sedangkan agenda sidang saat itu adalah membacakan keterangan saksi secara tertulis. Saksi ini merupakan penemu mayat korban pertama kali.

Usai sidang, terdakwa yang berpakaian kaos biru muda itu terlihat santai meninggalkan ruangan dengan pengawalan ketat dari keluarganya.

Belakangan diketahui, Ketua Majelis Hakim yang menyidangkan perkara tersebut, Jarihat Simarmata didampingi hakim anggota, Tengku Oyong dan Syafril Pardamean Batubara telah mengeluarkan penetapan penangguhan penahanan terhadap terdakwa Edy Suwanto.

“Iya benar, karena ada permohonan dari penasehat hukum terdakwa, sakit dan perlu perawatan dokter sesuai dengan surat dari dokter tahanan di Polda (Sumut),” ujar hakim Oyong saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (7/3/2021).

Disinggung, terdakwa sakit apa karena majelis hakim tidak memilih pembantaran, Oyong menjawab lupa. “Dokter yang tau parah atau tidak. Majelis yang memutuskan untuk percaya atau tidak penjelasan dari dokter tersebut. Sakitnya apa saya lupa nanti pas sidang berikutnya saya lihat lagi,” jawab Humas PN Medan ini.

Terpisah, Ketua PN Medan, Sutio Jumagi Akhirno mengaku tidak mengetahui soal penangguhan penahanan tersebut. Namun, Sutio menjelaskan bahwa majelis memiliki kewenangan untuk melakukan penahanan, penangguhan atau pengalihan tahanan.

“Penahanan, penangguhan atau pengalihan adalah kewenangan pejabat pada setiap tingkat pemeriksaan. Tentu ada alasan atau pertimbangannya, baik secara yuridis, sosiologis atau alasan non yuridis lainnya. Majelis yang lebih tahu dan itu penuh kewenangan mereka tanpa perlu izin atau lapor ke KPN (Ketua PN),” jelas Sutio melalui pesan WhatsApp (WA).

Padahal, Edy Suwanto didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Salman, Aisyah, Anita, Nelson Victor dan Anwar Ketaren dengan Pasal 340 KUHP Tentang Pembunuhan Berencana yang ancaman hukumannya maksimal pidana mati atau seumur hidup penjara.

Sebelumnya, Jeffri Wijaya alias Asiong warga Jalan Amal Kecamatan Medan Sunggal ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Kabupaten Karo, Jumat tanggal 18 September 2020 lalu.

Berawal dari penemuan mayat tanpa identitas tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan pengembangan. Menurut informasi yang beredar, kasus ini dilatarbelakangi soal utang judi game online yang berujung kematian.

Pria yang sehari-hari berbisnis jual beli mobil ini kemudian diculik dan dianiaya di sebuah rumah hingga meninggal dunia. Jasadnya di buang ke jurang kawasan hutan Jalan Medan-Berastagi KM 54-55 Desa Ndaulu Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo.

Dalam kasus pembunuhan tersebut, polisi mengamankan sejumlah pelaku hingga ditetapkan sebagai tersangka dan terdakwa. Ada warga sipil dan ada pula keterlibatan oknum TNI.

Adapun identitas para pelaku yakni Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango, Handi alias Ahan, Muhammad Dandi Syahputra, Selamat Nurdin Syahputra.

(rd)

Berita sebelumyaPolres Labuhanbatu Ciduk Juragan Bakso Nyambi Jualan Sabu
Berita berikutnyaKAI Minta Maaf atas Terganggunya Perjalanan KA Lintas Stasiun Pohgajih – Kesamben