Sawit Sentuh Harga Tertinggi, Petani Jangan Terlena

144
Foto: Istimewa

garudaonline – Medan | Harga komoditi sawit menyentuh Rp3300 per kilogram tandan buah segar (TBS). Ini merupakan harga tertingginya sepanjang sejarah industri kelapa sawit nasional.

Namun petani diminta tak terlena dengan mahalnya harga saat ini. Petani justru diminta untuk memanfaatkan keuntungan dari mahalnya harga sawit untuk kegiatan yang produktif.

Ekonom Gunawan Benjamin, mengatakan kenaikan harga sawit saat ini merupakan kabar baik di tengah melambatnya laju perekonomian belakangan ini akibat pandemi Covid-19.

Kenaikan harga sawit ini tentunya seirama dengan kenaikan harag minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Ada banyak sentimen yang membuat harga sawit mengalami kenaikan. Mulai bergeliatnya perekonomian dunia, sehingga membuat konsumsi CPO mengalami kenaikan.

Selain itu produktifitas panen sawit yang menurun dikarenakan faktor musiman. Hingga pemicu lainnya yakni kenaikan harga komoditas energi lain.

“Ini berkah buat petani sawit kita. Tapi harus dimanfaatkan untuk hal yang produktif. Seperti memperbaiki cash flow rumah tangga para petani kita. Memperbaiki kondisi tanaman sawit, bisa dari pemupukan, atau perawatan lainnya. Bukan justru konsumtif,” sebut Gunawan, Kamis (4/11).

Petani, kata Gunawan, juga jangan melupakan satu hal. Yakni harga sawit pernah turun hingga di bawah Rp1000 per kilogramnya. Seperti pada pertengahan 2019 lalu, di mana harga TBS di tingkat petani itu sempat di turun ke Rp700 perkilogram.

“Jadi manfaatkan kenaikan harga TBS saat ini untuk keperluan yang sifatnya produktif. Karena sejarah (harga TBS murah) bisa terulang kapan saja. Meskipun saat ini saya yakin harga TBS masih akan mahal setidaknya hingga penutupan akhir tahun 2021,” tukasnya.

Terlebih, kata Gunawan, saat ini dunia juga tengah dalam ketidakpastian. Covid-19 masih menjadi masalah utama yang membuat banyak negara memilih untuk menutup wilayahnya. Masih ada ketegangan dan memburuknya hubungan politik, musim dingin yang akan usai, stagflasi yang terjadi di China juga bisa memperburuk harga CPO nantinya.

Kemudian masalah perubahan iklim dan badai La Nina yang masih mengancam kegiatan produksi pertanian dunia.

“Jadi jangan terlena. Petani harus pintar dalam mengelola uang yang saat ini tengah melimpah akibat kenaikan harga sawit. Kita harus benar benar bersiap, dengan segala bentuk ancaman yang bisa merontokkan harga TBS nantinya. Meksipun saat ini kita tetap optimis harga TBS masih akan bertahan mahal,” bebernya.

(Nor)

Berita sebelumyaMinyak Goreng di Medan Mahal, Pedagang Mengeluh
Berita berikutnyaKAI Terima Penghaargaan Public Service Excellence Award 2021