Sidang Dugaan Akta Palsu, Berstatus DPO, BAP Oknum Notaris Fujiyanto dan Liem Soen Liong Dibacakan JPU

212
Terdakwa saat menjalani sidang

garudaonline – Medan | Oknum Notaris Fujiyanto Ngariawan dan Liem Soen Liong alias Edi untuk sekian kalinya kembali mangkir dalam persidangan perkara dugaan akta palsu dengan terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong di Ruang Cakra VI Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (16/11/2021).

Mangkirnya Fujiyanto dan Liem Soen Liong dikarenakan keduanya berstatus tersangka dan telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Polrestabes Medan dalam perkara sama.

Kendati demikian, dengan pertimbangan saksi selalu mangkir sejak pertama perkara ini disidangkan, Hakim Ketua, Dominggus Silaban mempersilahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho untuk membacakan keterangan Fujiyanto yang tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepolisian atas kesepakatan dua pihak yang berperkara.

Berdasarkan keterangan Fujianto Ngariawan yang dibacakan JPU, Fujianto mengaku bahwa akta nomor 8 tentang perjanjian kesepakatan tersebut dikonsep oleh terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong.

“Fujianto mengaku bahwa akta nomor 8 tentang perjanjian kesepakatan tersebut dikonsep oleh terdakwa. Walaupun terjadi adanya perbedaan dalam salinan, Fujianto Ngariawan mengaku tidak mengetahui hal tersebut,” ucap Chandra membacakan beberapa poin keterangan Fujianto Ngariawan.

Lebih lanjut disampaikan JPU, Fujianto juga menyebutkan bahwa persoalan kejanggalan penomoran dan tanggal akta diterbitkan dikarenakan kondisi rentang waktu menunggu surat kuasa dari tiga ahli waris saat itu belum hadir.

Kemudian, keterangan Ahli Kenotariatan, Dr Hendri Sinaga juga dibacakan JPU sesuai kesepakatan majelis hakim dan kedua pihak berperkara karena berhalangan hadir dalam persidangan. Ahli menjelaskan sejumlah pelanggaran yang telah dilakukan Notaris Fujianto dalam pembuatan akta kesepakatan perjanjian itu.

“Ahli menjelaskan bahwa akta dibuat kantor notaris. Akta yang dibuat di rumah para pihak adalah pelanggaran menurut Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) dan Kode Etik,” jelas JPU membacakan keterangan Hendri Sinaga.

Ahli juga menjelaskan beberapa poin pelanggaran dalam pembuatan akta yang dilakukan Fujianto Ngariawan. Beberapa diantaranya yakni bahwa penandatangan akta yang dilakukan secara tidak bersamaan merupakan pelanggaran.

“Kemudian, notaris tidak memberikan salinan kepada ahli waris merupakan pelanggaran, kepastian tanggal akta yang tidak jelas merupakan pelanggaran,” cetus JPU.

Sementara itu, pengacara korban, Longser Sihombing berharap agar perkara ini berjalan dengan seadil-adilnya. Dirinya menegaskan Notaris Fujiyanto dan Liem Soen Liong yang merupakan DPO meminta agar pihak kepolisian segera menangkap kedua tersangka.

“Kita meminta kepada pihak kepolisian Polrestabes Medan agar segera menangkap DPO Fujiyanto dan Liem Soen Liong,” tegasnya. Selain itu, dirinya juga mengatakan bahwa untuk persidangan berikutnya akan ada penambahan saksi dan bukti mengenai paspor yang ditunjukkan di persidangan.

(RD)

Berita sebelumyaTerbukti Korupsi Dana BOK, Kepala Puskesmas Sadabuan dan Pengelola Keuangan Divonis 1 Tahun 6 Bulan Penjara
Berita berikutnyaKejari Medan Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung UINSU