Terancam 15 Tahun, Dua Dokter dan Satu Sipil Didakwa Jual Beli Vaksin Ilegal

482
Para terdakwa menjalani sidang virtual

garudaonline – Medan | Terancam hukuman 15 tahun penjara, dua oknum dokter berstatus ASN yakni dr Kristinus Sagala dan dr Indra Wirawan serta seorang warga sipil, Selviwaty alias Selvi menjalani sidang perdana secara virtual di Ruang Cakra II Pengadilan Tipikor Medan, Rabu (8/9/2021).

Ketiganya didakwa telah menjual beli vaksin covid-19 secara ilegal. Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Robertson Pakpahan, bermula saat Selviwaty meminta dr Kristinus selaku ASN di Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut untuk menyuntik vaksin orang-orang yang akan dikoordinir olehnya.

Lalu, Selviwaty mengumpulkan uang dari orang-orang yang akan divaksin tersebut. Kristinus mendapat Rp 250.000/orang sekali suntik. Mereka berdua pun melaksanakan vaksinasi berbayar tersebut.

“Ketika Kristinus tidak sanggup lagi karena kehabisan stok vaksin, maka dia menyuruh Selviwaty meminta bantuan ke temannya sesama dokter yang ditugaskan di klinik Rutan Tanjung Gusta Kelas I Medan yakni terdakwa dr Indra,” ujar JPU.

Selanjutnya, Selviwaty membuat kesepakatan dengan Indra yakni akan diberikan uang sebesar Rp 250.000/orang untuk sekali suntik vaksin. Kesepakatan lain yang dibuat Selviwaty dengan Indra adalah bahwa dari uang Rp 250.000 yang dikutip dari setiap orang, maka Indra akan mendapat Rp 220.000, sedangkan sisanya Rp 30.000 untuk Selviwaty.

Cara memperoleh vaksin dari Dinkes Sumut yakni Indra menemui Suhadi selaku Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes. Kemudian, Indra beralasan akan melakukan vaksinasi sendiri karena Rutan sudah tersedia klinik, dokter dan perawat yang terlatih.

“Bahwa jumlah vaksin sinovac yang diminta dan diambil langsung oleh Indra dari Suhadi, baik  lewat permohonan secara resmi maupun hanya secara lisan adalah sejumlah 195 vial,” cetus Robertson. Dari vaksin-vaksin yang diterima oleh Indra, tidak seluruhnya digunakan atau sesuai dengan surat permohonannya.

Sebagian telah digunakan oleh Indra untuk menvaksin orang-orang yang mau membayar dan telah dikoordinir Selviwaty. Selanjutnya, mereka pun melakukan vaksinasi berbayar di sejumlah tempat. Dari hasil penjualan vaksin itu, ketiga terdakwa memperoleh keuntungan yang bervariasi.

“Untuk Kristinus Sagala memperoleh Rp 142.750.000 dari 570 orang. Sedangkan yang diterima Selviwaty sebesar Rp 11 juta. Sementara Indra memperoleh Rp 134.130.000 dari 1.050 orang. Yang diterima Selviwaty sebesar Rp 25 juta,” pungkas JPU dari Kejatisu tersebut.

Perbuatan Indra dan Kristinus didakwa melanggar Pasal 3 ayat (4), ayat (5) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 tahun 2021 Tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19; Pasal 12  huruf a dan/atau huruf b dan/atau Pasal 11 dan/atau Pasal 5 ayat (1), ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Sedangkan Selviwaty dikenakan Pasal 5 ayat (1) huruf a dan/atau b dan/atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Usai mendengar dakwaan, Hakim Ketua, Saut Maruli Tua Pasaribu menunda sidang hingga pekan depan. JPU Robertson menyatakan ketiga terdakwa terancam hukuman 15 tahun penjara.

(RD)

Berita sebelumyaPria yang Bunuh Keponakan di Belawan Divonis 12 Tahun Penjara
Berita berikutnyaBunuh Bapak Kos, Tiga Pria asal Nias Dituntut Hukuman Seumur Hidup