Terbukti Cabuli 6 Siswi, Kepala SD Galilea Hosana School Divonis 10 Tahun Penjara

614
Terdakwa Benyamin Sitepu saat mendengarkan putusan

garudaonline – Medan | Terbukti cabuli enam siswinya, Kepala SD Galilea Hosana School, Benyamin Sitepu divonis selama 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp 60 juta subsider 3 bulan kurungan.

“Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa Benyamin Sitepu selama 10 tahun penjara dan denda Rp 60 juta. Dengan ketentuan, apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan,” tandas Hakim Ketua, Zufida Hanum dalam sidang virtual di Ruang Cakra VIII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (29/12/2021).

Majelis hakim berpendapat, perbuatan oknum pendeta tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dengan sengaja melakukan ancaman kekerasan dan memaksa perbuatan cabul kepada para korban yang merupakan peserta didiknya.

Hakim Zufida Hanum mengungkapkan, beberapa dari tindakan cabul terdakwa dilakukan di ruang kepala sekolah. Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, terdakwa mengancam para korban untuk tidak menceritakan perbuatannya kepada orang tua dan orang lain. Ada juga perbuatan cabul yang dilakukan terdakwa di hotel.

“Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa telah merusak masa depan para korban serta menimbulkan trauma mendalam bagi korban dan keluarganya. Sedangkan yang meringankan, terdakwa telah meminta maaf dan membuat perdamaian dengan dua keluarga korban,” ungkapnya.

Perbuatan terdakwa dinyatakan terbukti melanggar Pasal 82 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang jo Pasal 65 KUHP.

Putusan 10 tahun penjara kepada terdakwa disambut haru oleh keluarga para korban yang menghadiri persidangan. Sejumlah keluarga korban terlihat tak kuasa menahan tangis setelah persidangan. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irma Hasibuan selama 15 tahun penjara. Menyikapi putusan ini, baik terdakwa maupun JPU menyatakan pikir-pikir.

Sementara itu, kuasa hukum para korban, Ranto Sibarani menghormati putusan tersebut. Namun, dia berharap JPU Irma Hasibuan akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Medan atas putusan tersebut. Menurutnya, terdakwa pantas menerima hukuman yang lebih berat.

“Karena korbannya lebih dari satu. Perbuatan cabul terdakwa yang seorang pendidik juga dilakukan di sekolah, ada juga yang di hotel. Kita berharap jaksa banding atas putusan ini,” pungkas Ranto.

Ranto mengatakan, berapa pun vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa tidak akan menghilangkan trauma bagi para korban dan keluarganya. Hanya saja, hukuman yang lebih berat diharapkan menimbulkan efek jera agar perbuatan serupa tidak terulang.

Diketahui, Benyamin Sitepu ditangkap pada 11 Mei 2021 di depan sekolah. Benyamin diamankan berdasarkan laporan enam siswi yang mengaku telah dicabuli. Laporan itu disampaikan orangtua siswi lewat kuasa hukumnya.

Aksi Benyamin Sitepu dilakukan di sejumlah tempat, termasuk sekolah tempatnya mengajar. Benyamin melancarkan aksinya dengan bertanya tentang cita-cita korban yang masih di bawah umur dan modus mengajari balet serta lainnya.

(RD)

Berita sebelumyaCek Posyan Nataru Tanah Karo, Kapolda Sumut Ingatkan Personel Maksimalkan Penegakan Prokes di Lokasi Wisata
Berita berikutnyaBeri Ruang Bebas Ekspresi, Polri Sambut Baik Acara ‘Safari Bhayangkara Mural’