Terima Berkas Walkot Tanjung Balai Non Aktif dari KPK, PN Medan Tunjuk Hakim As’ad

136
Ilustrasi
Ilustrasi.

garudaonline – Medan | As’ad Rahim Lubis ditunjuk untuk menjadi Hakim Ketua oleh Pengadilan Tipikor Medan dalam mengadili perkara dugaan suap yang melibatkan Walikota Tanjung Balai non aktif, M Syahrial.

Penunjukan itu dilakukan setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Prasetya Rahardja melimpahkan berkas perkara milik Syahrial pada Rabu (30/6/2021).

“Pengadilan Tipikor Medan sudah menerima pelimpahan berkas milik M Syahrial selaku Walikota Tanjung Balai,” ujar Panitera Muda (Panmud) Tipikor PN Medan, Junain Arief kepada wartawan, Kamis (1/7/2021).

Menurut Junain, selain As’ad, PN Medan juga menunjuk dua hakim anggota untuk mengadili perkara tersebut yakni Sulhanudin dan Husni Tamrin. “Perkara ini diregister dengan Nomor: 46/Pid.Sus-TPK/2021/PN.Mdn,” pungkasnya.

Mengenai jadwal sidang Junain menyebut majelis hakim belum menetapkannya. “Jadwal sidang perdana belum ditetapkan. Baru majelis hakim yang sudah ditetapkan,” sebutnya.

Penahanan Syahrial sendiri telah dialihkan ke PN Medan. Meski demikian, Ipi mengatakan Syahrial masih dititipkan di Rutan KPK Kaveling C1.

Adapun Syahrial dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga tersangka yakni M Syahrial selaku Walikota Tanjung Balai non aktif, AKP Stepanus Robin Pattuju selaku eks penyidik KPK dan Maskus Husain selaku pengacara.

KPK menduga, Robin bersama Maskur sepakat membuat komitmen dengan Syahrial terkait dengan penyelidikan dugaan korupsi di Pemkot Tanjungbalai untuk tidak ditindaklanjuti dengan menyiapkan uang sebesar Rp 1,5 miliar.

Kemudian, Syahrial menyetujui permintaan Robin dan Maskur tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik Riefka Amalia (teman dari Robin).

Syahrial juga memberikan uang secara tunai kepada Robin hingga total uang yang telah diterima mencapai Rp 1,3 miliar. Dari uang yang telah diterima oleh Robin dari Syahrial, kemudian diberikan kepada Maskur sebesar Rp 325 juta dan Rp 200 juta.

Selain itu, Maskur juga diduga menerima uang dari pihak lain sekira Rp 200 juta. Sedangkan Robin pada Oktober 2020 sampai April 2021, diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank milik Riefka sebesar Rp 438 juta.

Bahkan, Robin telah diberhentikan tidak hormat melalui sidang pelanggaran Kode Etik oleh Dewan Pengawas (Dewas) KPK. (RD)

Berita sebelumyaFuad Rinaldi : Roda Perekonomian Indonesia Makin Mengkhawatirkan
Berita berikutnyaDugaan Korupsi, Kejati Sumut Geledah Kantor dan Rumdis Direktur PDAM